Jumat, 09 Juli 2010

gairah menggebu

Wawan, seorang bujangan berumur 28 tahun yang saat ini sedang kebingungan. Pasalnya, panggilan pekerjaan dari sebuah perusahaan dimana dia melamar begitu mendadak. Dia bingung bagaimana harus mencari tempat tinggal secepat ini. Perusahaan dimana dia melamar terletak di luar kota, jangka waktu panggilan itu selama empat hari, dimana dia harus melakukan tes wawancara. Akhirnya dia memaksa berangkat besoknya, dengan tujuan penginapanlah dimana dia harus tinggal. Dengan bekal yang cukup malah berlebih mungkin, sampailah dia di penginapan dimana perusahaan yang dia lamar terletak di kota itu juga.
Sudah 2 hari ini dia tinggal di penginapan itu, selama ini dia sudah mepersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna kelancaran dalam tes wawancara nanti. Sampai pada akhirnya, dia membaca di surat kabar, bahwa disitu tertulis menerima kos-kosan atau tempat tinggal yang permanen. Kemudian dengan bergegas dia mendatangi alamat tersebut. Sampai pada akhirnya, sampailah dia di depan pintu rumah yang dimaksud itu.
Perlahan Wawan mengetuk pintu, tidak lama kemudian terdengar suara kunci terbuka diikuti dengan seorang wanita tua yang muncul.
“Iya, ada perlu apa, Pak..?”
“Oh, begini.., tadi saya membaca surat kabar, disitu tertulis bahwa di rumah ini menyediakan kamar untuk tempat tinggal.” sahut Wawan seketika.
“Oh, ya, memang benar, silakan masuk Pak, biar saya memanggil nyonya dulu,” wanita tua itu mempersilakan Wawan masuk.
“Hm.., baik, terima kasih.”
Sejenak kemudian Wawan sudah duduk di kursi ruang tamu.
Terlihat sekali keadaan ruang tamu yang sejuk dan asri. Wawan memperhatikan sambil melamun. Tiba-tiba Wawan dikejutkan oleh suara wanita yang masuk ke ruang tamu.
“Selamat siang, ada yang perlu saya bantu..?”
Terhenyak Wawan dibuatnya, di depan dia sekarang berdiri seorang wanita yang boleh dikatakan belum terlalu tua, umurnya sekitar 40 tahunan, cantik, anggun dan berwibawa.
“Oh.., eh.. selamat siang,” Wawan tergagap kemudian dia melanjutkan, “Begini Bu..”
“Panggil saya Bu Mira..,” tukas wanita itu menyahut.
“Hm.., o ya, Bu Mira, tadi saya membaca surat kabar yang tertulis bahwa disini ada kamar untuk disewakan.”
“Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”
“Wawan Bu,” sahut Wawan seketika.
“Memang benar disini ada kamar disewakan, perlu diketahui oleh Nak Wawan bahwa di rumah ini hanya ada tiga orang, yaitu, saya, anak saya yang masih SMA dan pembantu wanita yang tadi bicara sama Nak Wawan, kami memang menyediakan satu kamar kosong untuk disewakan, selain agar kamar itu tidak kotor juga rumah ini biar tambah ramai penghuninya.” dengan singkat Bu Mira menjelaskan semuanya.
“Hm, suami Ibu..?” tanya Wawan singkat.
“Oh ya, saya dan suami saya sudah bercerai satu tahun yang lalu,” jawab Bu Mira singkat.
“Ooo, begitu ya, untuk masalah biayanya, berapa sewanya..?” tanya Wawan kemudian.
“Hm, begini, Nak Wawan mau mengambil berapa bulan, biaya sewa sebulannya tujuh puluh ribu rupiah,” jawab Bu Mira menerangkan.
“Baiklah Bu Mira, saya akan mengambil sewa untuk enam bulan,” kata Wawan.
“Oke, tunggu sebentar, Ibu akan mengambil kuitansinya.”
Akhirnya setelah mengemasi barang-barang di penginapan, tinggallah Wawan disitu dengan Bu Mira, Ida anak Bu Mira dan Bik Sumi pembantu Bu Mira.
Sudah satu bulan ini Wawan tinggal sambil menunggu panggilan selanjutnya. Dan sudah satu bulan ini pula Wawan punya keinginan yang aneh terhadap Bu Mira. Wanita yang anggun, cantik dan berwibawa yang cukup lama hidup sendirian. Wawan tidak dapat membayangkan bagaimana mungkin wanita yang masih kelihatan muda dari segi fisiknya itu dapat betah hidup sendirian. Bagaimana Bu Mira menyalurkan hasrat seksualnya. Ingin sekali Wawan bercinta dengan Bu Mira. Apalagi sering Wawan melihat Bu Mira memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh Bu Mira yang masih kelihatan kencang dan indah. Ingin sekali Wawan menyentuhnya.
“Aku harus bisa mendapatkannya..!” gumam Wawan suatu saat.
“Saya harus mencari cara,” gumamnya lagi.
Sampai pada suatu saat kemudian, yaitu pada saat malam Minggu, rumah kelihatan sepi, maklum saja, Ida anak Bu Mira tidur di tempat neneknya, Bik Sumi balik ke kampung selama dua hari, katanya ada anaknya yang sakit. Tinggallah Wawan dan Bu Mira sendirian di rumah. Tapi Wawan sudah mempersiapkan cara bagaimana melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mira. Lama Wawan di kamar, jam menunjukkan pukul delapan malam, dia melihat Bu Mira menonton TV di ruang tengah sendirian. Akhirnya setelah mantap, Wawan pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah.
“Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?” sejenak Wawan berbasa-basi.
“Oh, silakan Nak Wawan..,” mempersilakan Bu Mira kepada Wawan.
“Ngomong-ngomong, tidak keluar nih Nak Wawan, malam Minggu loh, masa di rumah terus, apa tidak bosan..?” tanya Bu Mira kemudian.
“Ah, nggak Bu, lagian keluar kemana, biasanya juga malam Minggu di rumah saja,” jawab Wawan sekenanya.
Lama mereka berdua terdiam sambil menikmati acara TV.
“Oh, ya, Bu, boleh saya buatkan minum..?” tanya Wawan tiba-tiba.
“Lho, tidak usah Nak Wawan, kok repot-repot..,”
“Ah, nggak apa-apa, sekali-kali saya yang buatkan minuman untuk Ibu, masak Ibu dan Bik Sumi saja yang selalu membuatkan minuman untuk saya.”
“Hm.., boleh kalau begitu, Ibu ingin minum teh saja,” kata Bu Mira sambil tersenyum.
“Baiklah Bu, kalau begitu tunggu sebentar.” segera Wawan bergegas ke dapur.
Tidak lama kemudian Wawan sudah kembali sambil membawa nampan berisi dua teh dan sedikit makanan kecil di piring.
“Silakan Bu, diminum, mumpung masih hangat..!”
“Terima kasih, Nak Wawan.”
Akhirnya setelah sekian lama terdiam lagi, terlihat Bu Mira sudah mulai mengantuk, tidak lama kemudian Bu Mira sudah tertidur di kursi dengan keadaan memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh dan payudaranya yang indah. Tersenyum Wawan melihatnya.
“Akhirnya aku berhasil, ternyata obat tidur yang kubeli di apotik siang tadi benar-benar manjur, obat ini akan bekerja untuk beberapa saat kemudian,” gumam Wawan penuh kemenangan.
“Beruntung sekali tadi Bu Mira mau kubuatkan teh, sehingga obat tidur itu dapat kucampur dengan teh yang diminum Bu Mira,” gumamnya sekali lagi.
Sejenak Wawan memperhatikan Bu Mira, tubuh yang pasrah yang siap dipermainkan oleh lelaki manapun. Timbul gejolak kelelakian Wawan yang normal tatkala melihat tubuh indah yang tergolek lemah itu. Diremas-remasnya dengan lembut payudara yang montok itu bergantian kanan kiri sambil tangan yang satunya bergerilnya menyentuh paha sampai ke ujung paha. Terdengar desahan perlahan dari mulut Bu Mira, spontan Wawan menarik kedua tangannya.
“Mengapa harus gugup, Bu Mira sudah terpengaruh obat tidur itu sampai beberapa saat nanti,” gumam Wawan dalam hati.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Wawan kemudian membopong tubuh Bu Mira memasuki kamar Wawan sendiri. Digeletakkan dengan perlahan tubuh yang indah di atas tempat tidur, sesaat kemudian Wawan sudah mengunci kamar, lalu mengeluarkan tali yang memang sengaja dia simpan siang tadi di laci mejanya.
Tidak lama kemudian Wawan sudah mengikat kedua tangan Bu Mira di atas tempat tidur. Melihat keadaan tubuh Bu Mira yang telentang itu, tidak sabar Wawan untuk melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mira.
“Malam ini aku akan menikmati tubuhmu yang indah itu Bu Mira,” kata Wawan dalam hati.
Satu-persatu Wawan melepaskan apa saja yang dipakai oleh Bu Mira. Perlahan-lahan, mulai dari daster, BH, kemudian celana dalam, sampai akhirnya setelah semua terlepas, Wawan menyingkirkannya ke lantai. Terlihat sekali sekarang Bu Mira sudah dalam keadaan polos, telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Diamati oleh Wawan mulai dari wajah yang cantik, payudara yang montok menyembul indah, perut yang ramping, dan terakhir paha yang mulus dan putih dengan gundukan daging di pangkal paha yang tertutup oleh rimbunnya rambut.
Sesaat kemudian Wawan sudah menciumi tubuh Bu Mira mulai dari kaki, pelan-pelan naik ke paha, kemudian berlanjut ke perut dan terakhir ciuman Wawan mendarat di payudara Bu Mira. Sesekali terdengar desahan kecil dari mulut Bu Mira, tapi Wawan tidak memperdulikannya. Diciumi dan diremas-remas kedua payudara yang indah itu dengan mulut dan kedua tangan Wawan. Puting merah jambu yang menonjol indah itu juga tidak lepas dari serangan-serangan Wawan. Dikulum-kulum kedua puting itu dengan mulutnya dengan perasaan dan gairah birahi yang sudah memuncak. Setelah puas Wawan melakukan itu semua, perlahan-lahan dia bangkit dari tempat tidur.
Satu-persatu Wawan melepas pakaian yang melekat di badannya, akhirnya keadaan Wawan sudah tidak beda dengan keadaan Bu Mira, telanjang bulat, polos, tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Terlihat kemaluan Wawan yang sudah mengencang hebat siap dihunjamkan ke dalam vagina Bu Mira. Tersenyum Wawan melihat rudalnya yang panjang dan besar, bangga sekali dia mempunyai rudal dengan bentuk begitu.
Perlahan-lahan Wawan kembali naik ke tempat tidur dengan posisi telungkup menindih tubuh Bu Mira yang telanjang itu, kemudian dia memegang rudalnya dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam vagina Bu Mira. Wawan merasakan vagina yang masih rapat karena sudah setahun tidak pernah tersentuh oleh laki-laki. Akhirnya setelah sekian lama, rudal Wawan sudah masuk semuanya ke dalam vagina Bu Mira.
Ketika Wawan menghunjamkan rudalnya ke dalam vagina Bu Mira sampai masuk semua, terdengar rintihan kecil Bu Mira, “Ah.., ah.., ah..!”
Tapi Wawan tidak menghiraukannya, dia lalu menggerakkan kedua pantatnya maju munjur dengan teratur, pelan-pelan tapi pasti.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar setiap kali ketika Wawan melakukan aktivitasnya itu, diikuti dengan bunyi tempat tidur yang berderit-derit.
“Uh.., oh.., uh.., oh..,” sesekali Wawan mengeluh kecil, sambil tangannya terus meremas-remas kedua payudara Bu Mira yang montok itu.
Lama Wawan melakukan aktivitasnya itu, dirasakannya betapa masih kencangnya dan rapatnya vagina Bu Mira. Akhirnya Wawan merasakan tubuhnya mengejang hebat, merapatkan rudalnya semakin dalam ke vagina Bu Mira.
“Ser.., ser.., ser..,” Wawan merasakan cairan yang keluar dari ujung kemaluannya mengalir ke dalam vagina Bu Mira.
“Oh.. ah.. oh.. Bu Mira.., oh..!” terdengar keluhan panjang dari mulut Wawan.
Setelah itu Wawan merasakan tubuhnya yang lelah sekali, kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping tubuh Bu Mira dengan posisi memeluk tubuh Bu Mira yang telah dinikmatinya itu.
Lama Wawan dalam posisi itu sampai pada akhirnya dia dikejutkan oleh gerakan tubuh Bu Mira yang sudah mulai siuman. Secara reflek, Wawan bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah saklar lampu dan mematikannya. Tertegun Wawan berdiri di samping tempat tidur dalam kamar yang sudah dalam keadaan gelap gulita itu. Sesaat kemudian terdengar suara Bu Mira.
“Oh, dimana aku, mengapa gelap sekali..?”
Sebentar kemudian suasana menjadi hening.
“Dan, mengapa tanganku diikat, dan, oh.., tubuhku juga telanjang, kemana pakaianku, apa yang terjadi..?” terdengar suara Bu Mira pelan dan serak.
Suasana hening agak lama. Wawan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia diam saja.
Terdengar lagi suara Bu Mira mengeluh, “Oh.., tolonglah aku..! Apa yang terjadi padaku, mengapa aku bisa dalam keadaan begini, siapa yang melakukan ini terhadapku..?” keluh Bu Mira.
Akhirnya timbul kejantanan dalam diri Wawan, bagaimanapun setelah apa yang dia lakukan terhadap Bu Mira, Wawan harus berterus terang mengatakannya semuanya
“Ini saya..,” gumam Wawan lirih.
“Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa kamu kembali lagi padaku..?” sahut Bu Mira agak keras.
“Bukan, ini saya Bu.., Wawan..,” Wawan berterus terang.
“Wawan..!” kaget Bu Mira mendengarnya.
“Apa yang kamu lakukan pada Ibu, Wawan..? Bicaralah..! Mengapa Ibu kamu perlakukan seperti ini..?” tanya Bu Mira kemudian.
Kemudian Wawan bercerita mulai dari awal sampai akhir, bagaimana mula-mula dia tertarik pada Bu Mira, sampai pada keheranannya bagaimana juga Bu Mira dapat hidup sendiri selama setahun tanpa ada laki-laki yang dapat memuaskan hasrat birahi Bu Mira. Juga tidak lupa Wawan menceritakan semua yang dia lakukan terhadap Bu Mira selama Bu Mira tidak sadar karena pengaruh obat tidur. Tertegun Bu Mira mendengar semua perkataan Wawan. Lama mereka terdiam, tapi terdengar Bu Mira bicara lagi.
“Wawan.., Wawan.., Ibu memang menginginkan laki-laki yang bisa memuaskan hasrat birahi Ibu, tapi bukan begini caranya, mengapa kamu tidak berterus-terang pada Ibu sejak dulu, kalaupun kamu berterus terang meminta kepada Ibu, pasti Ibu akan memberikannya kepadamu, karena Ibu juga merasakan bagaimana tidak enaknya hidup sendiri tanpa laki-laki.”
“Terus terang saya malu Bu, saya malu kalau Ibu menolak saya.”
“Tapi setidaknya kan, berterus terang itu lebih sopan dan terhormat daripada harus memperlakukan Ibu seperti ini.”
“Saya tahu Bu, saya salah, saya siap menerima sanksi apapun, saya siap diusir dari rumah ini atau apa saja.”
“Oh, tidak Wawan, bagaimanapun kamu telah melakukannya semua terhadap Ibu. Sekarang Ibu tidak lagi terpengaruh oleh obat tidur itu lagi, Ibu ingin kamu melakukannya lagi terhadap Ibu apa yang kamu perbuat tadi, Ibu juga menginginkannya Wawan tidak hanya kamu saja.”
“Benar Bu..?” tanya Wawan kaget.
“Benar Wawan, sekarang nyalakanlah lampunya, biar Ibu bisa melihatmu seutuhnya,” pinta Bu Mira kemudian.
Tanpa pikir panjang lagi, Wawan segera menyalakan lampu yang sejak tadi padam. Sekarang terlihatlah kedua tubuh mereka yang sama-sama polos, dan telanjang bulat dengan posisi Bu Mira terikat tangannya.
“Oh Wawan, tubuhmu begitu atletis. Kemarilah, nikmatilah tubuh Ibu, Ibu menginginkannya Wawan..! Ibu ingin kamu memuaskan hasrat birahi Ibu yang selama ini Ibu pendam, Ibu ingin malam ini Ibu benar-benar terpuaskan.”
Perlahan Wawan mendekati Bu Mira, diperhatikan wajah yang tambah cantik itu karena memang kondisi Bu Mira yang sudah tersadar, beda dengan tadi ketika Bu Mira masih tidak sadarkan diri. Diusap-usapnya dengan lembut tubuh Bu Mira yang polos dan indah itu, mulai dari paha, perut, sampai payudara. Terdengar suara Bu Mira menggelinjang keenakan.
“Terus.., Wawan.., ah.. terus..!” terlihat tubuh Bu Mira bergerak-gerak dengan lembut mengikuti sentuhan tangan Wawan.
“Tapi, Wawan, Ibu tidak ingin dalam keadaan begini, Ibu ingin kamu melepas tali pengikat tangan Ibu, biar Ibu bisa menyentuh tubuhmu juga..!” pinta Ibu Mira memelas.
“Baiklah Bu.”
Sedetik kemudian Wawan sudah melepaskan ikatan tali di tangan Bu Mira. Setelah itu Wawan duduk di pinggir tempat tidur sambil kedua tangannya terus mengusap-usap dan meremas-remas perut dan payudara Bu Mira.
“Nah, begini kan enak..,” kata Bu Mira.
Sesaat kemudian ganti tangan Bu Mira yang meremas-remas dan menarik maju mundur kemaluan Wawan, tidak lama kemudian kemaluan Wawan yang diremas-remas oleh Bu Mira mulai mengencang dan mengeras. Benar-benar hebat si Wawan ini, dimana tadi kemaluannya sudah terpakai sekarang mengeras lagi. Benar-benar hyper dia.
“Oh.., Wawan, kemaluanmu begitu keras dan kencang, begitu panjang dan besar, ingin Ibu memasukkannya ke dalam vagina Ibu.” kata Bu Mira lirih sambil terus mempermainkan kemaluan Wawan yang sudah membesar itu.
Diperlakukan sedemikian rupa, Wawan hanya dapat mendesah-desah menahan keenakan.
“Bu Mira, oh Bu Mira, terus Bu Mira..!” pinta Wawan memelas.
Semakin hebat permainan seks yang mereka lakukan berdua, semakin hot, terdengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil yang keluar dari mulut mereka berdua.
“Oh Wawan, naiklah ke atas tempat tidur, naiklah ke atas tubuhku, luapkan hasratmu, puaskan diriku, berikanlah kenikmatanmu pada Ibu..! Ibu sudah tak tahan lagi, ibu sudah tak sabar lagi..” desis Bu Mira memelas dan memohon.
Sesaat kemudian Wawan sudah naik ke atas tempat tidur, langsung menindih tubuh Bu Mira yang telanjang itu, sambil terus menciumi dan meremas-remas payudara Bu Mira yang indah itu.
“Oh, ah, oh, ah.., Wawan oh..!” tidak ada kata yang lain yang dapat diucapkan Bu Mira yang selain merintih dan mendesah-desah, begitu juga dengan Wawan yang hanya dapat mendesis dan mendesah, sambil menggosok-gosokkan kemaluannya di atas permukaan vagina Bu Mira. Reflek Bu Mira memeluk erat-erat tubuh Wawan sambil sesekali mengusap-usap punggung Wawan.
Sampai suatu ketika, tangan Bu Mira memegang kemaluan Wawan dan memasukkannya ke dalam vaginanya. Pelan dan pasti Wawan mulai memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira, sambil kedua kakinya bergerak menggeser kedua kaki Bu Mira agar merenggang dan tidak merapat, lalu menjepit kedua kaki Bu Mira dengan kedua kakinya untuk terus telentang. Akhirnya setelah sekian lama berusaha, karena memang tadi Wawan sudah memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira, sekarang agak gampang Wawan menembusnya, Wawan sudah berhasil memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira.
Kemudian dengan reflek Wawan menggerakkan kedua pantatnya maju mundur teru-menerus sambil menghunjamkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar ketika Wawan melakukan aktivitasnya itu.
Terlihat tubuh Bu Mira bergerak menggelinjang keenakan sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya mengikuti irama gerakan pantat Wawan.
“Ah.., ah.., oh.. Wawan.., jangan lepaskan, teruskan, teruskan, jangan berhenti Wawan, oh.., oh..!” terdengar rintihan dan desahan nafas Bu Mira yang keenakan.
Lama Wawan melakukan aktivirasnya itu, menarik dan memasukkan kemaluannya terus-menerus ke dalam vagina Bu Mira. Sambil mulutnya terus menciumi dan mengulum kedua puting payudara Bu Mira.
“Oh.., ah.. Bu Mira, oh.., kamu memang cantik Bu Mira, akan kulakukan apa saja untuk bisa memuaskan hasrat birahimu, ih.., oh..!” desis Wawan keenakan.
“Oh.., Wawan.., bahagiakanlah Ibu malam ini dan seterusnya, oh Wawan.., Ibu sudah tak tahan lagi, oh.., ah..!”
Semakin cepat gerakan Wawan menarik dan memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira, semakin hebat pula goyangan pantat Bu Mira mengikuti irama permainan Wawan, sambil tubuhnya terus menggelinjang bergerak-gerak tidak beraturan.
Semakin panas permainan seks mereka berdua, sampai akhirnya Bu Mira merintih, “Oh.., ah.., Wawan.., Ibu sudah tak tahan lagi, Ibu sudah tak kuat lagi, Ibu mau keluar, oh Wawan.., kamu memang perkasa..!”
“Keluarkan Bu..! Keluarkanlah..! Puaskan diri Ibu..! Puaskan hasrat Ibu sampai ke puncaknya..!” desis Wawan menimpali.
“Mari kita keluarkan bersama-sama Bu Mira..! Oh, aku juga sudah tak tahan lagi,” desis Wawan kemudian.
Setelah berkata begitu, Wawan menambah genjotannya terhadap Bu Mira, terus-menerus tanpa henti, semakin cepat, semakin panas, terlihat sekali kedua tubuh yang basah oleh keringat dan telanjang itu menyatu begitu serasi dengan posisi tubuh Wawan menindih tubuh Bu Mira.
Sampai akhirnya Wawan merasakan tubuhnya mengejang hebat, begitu pula dengan tubuh Bu Mira. Keduanya saling merapatkan tubuhnya masing-masing lebih dalam, seakan-akan tidak ada yang memisahkannya.
“Ser.., ser.., ser..!” terasa keluar cairan kenikmatan keluar dari ujung kemaluan Wawan mengalir ke dalam vagina Bu Mira, begitu nikmat seakan-akan seperti terbang ke langit ke tujuh, begitu pula dengan tubuh Bu Mira seakan-akan melayang-layang tanpa henti di udara menikmati kepuasan yang diberikan oleh Wawan.
Sampai akhirnya mereka berdua berhenti karena merasa kelelahan yang amat sangat setelah bercinta begitu hebat.
Sejenak kemudian, masih dengan posisi yang saling menindih, terpancar senyum kepuasan dari mulut Bu Mira.
“Wawan, terima kasih atas apa yang telah kau berikan pada Ibu..,” kata Bu Mira sambil tangannya mengelus-elus rambut Wawan.
“Sama-sama Bu, aku juga puas karena sudah membuat Ibu berhasil memuaskan hasrat birahi Ibu,” sahut Wawan dengan posisi menyandarkan kepalanya di atas dada Bu Mira.
Suasana yang begitu mesra.
“Selama disini, mulai malam ini dan seterusnya, Ibu ingin kamu selalu memberi kepuasan birahi Ibu..!” pinta Ibu Mira.
“Saya berjanji Bu, saya akan selalu memberikan yang terbaik bagi Ibu..,” kata Wawan kemudian.
“Ah, kamu bisa saja Wan,” tersungging senyum di bibir Bu Mira.
“Tapi, ngomong-ngomong bagaimana dengan Ida dan Bik Sumi..?” tanya Wawan.
“Lho, kita kan bisa mencari waktu yang tepat. Disaat Ida berangkat sekolah juga bisa, dan Bik Sumi di dapur. Di saat keduanya tidur pun kita bisa melakukannya. Pokoknya setiap saat dan setiap waktu..!” jawab Bu Mira manja sambil tangannya mengusap-usap punggung Wawan.
Sejenak Wawan memandang wajah Bu Mira, sesaat kemudian keduanya sama-sama tertawa kecil. Akhirnya apa yang mereka pendam berdua terlampiaskan sudah. Sambil dengan keadaan yang masih telanjang dan posisi saling merangkul mesra, mereka akhirnya tertidur kelelahan.

marina

Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk air liur setiap menyaksikan pinggang, pinggul dan pantat Marina yang indah dan seksi, apalagi bila Marina sedang berjongkok mengepel lantai dengan pakaian seadanya, wah, Daud melotot matanya. Timbullah hasratnya untuk menyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah polos tanpa pakaian. Daud mendapat akal, suatu hari ketika Marina dan ibunya sedang keluar rumah, Daud bekerja keras membuat lubang di dinding kamar mandi yang hanya terbuat dari papan.

Suatu hari ketika Marina hendak pergi mandi Daud bersiap menunggu sambil mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Marina memasuki kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit di tubuhnya, setelah mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Marina melepaskan handuknya, Daud menelan liurnya menyaksikan pemandangan indah yang terpampang di depan matanya, pemandangan indah yang berasal dari tubuh indah anak tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, ramping dan mulus itu membuat gairah Daud bergejolak, apalagi sepasang payudara yang begitu mulus dengan sepasang puting susu berwarna merah jambu menghias indah di puncak payudara yang sekal itu, mata Daud melirik ke arah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus indah menghias di sekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit rapat. Semua itu membuat dada Daud bergetar menahan nafsu, membuatnya semakin penasaran ingin menikmati keindahan yang sedang terpampang di depan matanya. Daud tahu Marina sering keluar dari kamarnya pada malam hari untuk pipis.

Pada malam berikutnya, Daud dengan sabar menunggu. Begitu Marina memasuki kamar mandi, Daud membarenginya dengan memasuki kamar Marina. Daud menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Marina masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu Daud muncul dari balik lemari, Marina terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Daud meletakkan telunjuk ke mulutnya, isyarat agar Marina jangan berteriak, Marina mundur beberapa langkah dengan ketakutan. Daud maju dan tiba-tiba menyergapnya Marina siap menjerit, tetapi Daud dengan cepat menutup mulutnya. “Jangan menjerit!”, Daud mengancam. Marina semakin ketakutan, badannya gemetar. Daud memeluk gadis yang masih murni itu, menciumi bibirnya bertubi-tubi. Marina terengah-engah. “Jangan takut, nanti kuberi uang”, kata Daud dengan nafas menggebu-gebu. Bibir Marina terus diciumi, gadis itu memejamkan matanya, merasakan nikmat, dengan mulut terbuka. Tanpa sadar, rontaan Marina mulai melemah, bahkan kedua lengannya memanggut bahu Daud. Sekilas terbayang adegan di buku porno yang pernah dilihatnya.

Alangkah gembiranya Daud ketika Marina mulai membalas ciuman-ciumanya dengan tak kalah gencarnya. “Pak, Pak jangan…!”, Walaupun mulutnya berkata jangan, tetapi Marina tidak mengadakan perlawanan ketika gaunnya di lepas. Dalam sekejap, Marina hanya mengenakan beha dan celana dalam saja, itupun tidak bertahan lama. Daud mencopoti bajunya sendiri. Marina menghambur ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Marina menghadap tembok, menunggu dengan dada bergetar, di hatinya terjadi pertentangan antara nafsu dan keinginan untuk mempertahankan kehormatannya, namun nafsulah yang menang. Selimut yang menutupi tubuh ditarik, Marina dipeluk dari belakang dan dirasakannya hangatnya pisang ambon Daud mengganjal dan menggesek-gesek di belahan pantatnya, Marina menggigil.

Dengan bernafsu Daud menciumi kuduk Marina, gadis itu menggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup ke pori-porinya. Daud membalikkan tubuh Marina hingga telentang, gadis itu meronta hendak melepaskan diri, Daud menindihnya, tangannya meraba-raba bongkahan buah dada Marina. Dada yang ranum dan sehat, yang selama beberapa hari ini mengisi khayalan Daud. Kembali rontaan-rontaan Marina melemah, dirasakannya kenikmatan pada buah dadanya, yang diciumi Daud dengan berganti-gantian. Dada yang kenyal dan masih segar itu bergetar-getar, Daud membuka mulutnya dan melahap putingnya yang merah jambu. Marina menjerit lirih, tetapi segera tenggelam dalam erangan kenikmatan. “Pak, mm.., mm.., ja..ngan ssshh mmphh…, sshh..”.

Akhirnya Marina tidak lagi memberontak, dibiarkannya payudara kiri dan kanannya dijilati dan dihisap oleh Daud. Aroma harum yang terpancar dari tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsangan birahi Daud semakin naik. Kedua bukit indah Marina semakin mengeras dan membesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indah menawan, Daud terus mengulum dan mengulumnya terus.

“Pak, Saya.., takuut”, Suara Marina mendesah lembut.
“Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang..”, dengan napas memburu.
“Ibu, pak. Nanti ibu bangun.., sshh.., aah..”.
“aakh.., ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur”.

Marina mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Daud mulai bermain di bukit kemaluannya yang membengkak. Daud menekan-nekan bukit indah itu. “Kue apemmu hebat sekali”, bisik Daud sambil berkali-kali meneguk air liurnya, tangan Daud menguak belahan kue apem itu. Marina yang semula mengatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai mengendurkannya, bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Daud yang romantis mendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan lelaki yang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Marina dan berdenyut-denyut. Sebenarnya Marina ingin sekali menggenggam batang kemaluan yang besarnya luar biasa itu.

Sementara itu Daud menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluan yang ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukit itu. “Sssssh…, mmh…, sssh…, aakh..”, Mata Marina membeliak-beliak dan pahanyapun membuka. Daud menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir vagina Marina yang masih rapat walau sudah dikangkangkan. Secara naluriah Marina menggenggam batang penis Daud, ia merasa jengah, keduanya saling berpandangan, Marina malu sekali dan akan menarik kembali tangannya tetapi dicegah oleh Daud, sambil tersenyum, lelaki yang cukup ganteng itu berkata, “Tidak apa-apa, Marina! Genggamlah sayang, berbuatlah sesuka hatimu!”. Dan dengan dada berdegup Marina tetap menggenggam batang penis yang keras itu. Daud merem-melek menikmati belaian dan remasan lembut pada batang penisnya. Sementara itu tangan Daud mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Marina, gadis itu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah basah dan licin, ujung jari Daud menyentuh-nyentuh clitoris Marina. Marina menggelinjang-gelinjang.
“Bagaimana Mar?”, tanya Daud.
“Enaakh…, Paak!”, Jawab Marina.

Daud semangkin gencar menggempur vagina Marina dengan jari tangannya. Lalu Daud menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Marina. Dipandanginya belahan vagina yang begitu indahnya, menampakkan bagian dalamnya yang kemerahan dan licin. Daud menguakkan bibir-bibir kemaluan itu, maka kelihatanlah clitorisnya, mengintip dari balik bibir-bibir kemaluan Marina, Daud tidak dapat menahan dirinya lagi, diciumnya clitoris Marina dengan penuh nafsu. Marina menjerit kecil.
“Kenapa Marina? Sakit?”, tanya Daud di sela kesibukannya.
Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Dengan bernafsu Daud menjilati vagina Marina dan lidahnya menerobos menjilati bagian dalam dari kemaluan Marina, melilit dan membelai clitorisnya. Marina semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Daud, tiba-tiba dirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut serta seluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakan sesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluannya yang paling dalam.

“aakh…, uuggh…, Paakk..”, Marina mendesah seiring menyemburnya air mani dari dasar lubuk kemaluannya. Sementara Daud tetap menjilati kemaluan Marina bahkan Daud menghisap cairan yang licin dan kental yang menyembur dari kemaluan Marina yang masih suci itu, dan menelannya.
“Sungguh nikmat air manimu Mar”, bisik Daud mesra di telinga Marina. Sementara Marina memandang memelas ke arah Daud, dan Daud mengerti apa yang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Marina. Batang kemaluan Daud sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang. Sedangkan bukit kemaluan Marina sudah berdenyut-denyut ingin sekali dimasuki penis Daud yang besar. Maka Daudpun mengatur posisinya di atas tubuh Marina. Mata Marina terpejam, menantikan saat-saat mendebarkan itu. Batang penis Daud mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuh clitoris Marina. Marina memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinya bertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Daud mulai mencapai mulut lubang kemaluan Marina yang masih liat dan sempit. Dan Daudpun menekan pantatnya. Marina menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat. Tubuhnya menggigil.

“Paak, oukh.., akh…, aakh…, ooough…, sakit Pak..”, Marina merintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya. Sedangkan Daud tidak menghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannya dengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannya berulang kali. Sementara Marina mulai merasakan kenikmatan yang tiada duanya yang pernah dirasakannya.
“Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang!”, bisik Daud sambil tetap menurun-naikkan pantatnya.
“Eeegh…, yaa…, aakkhh…, oough..”, jawab Marina dengan mendesah. Kini Marina menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya. Dirasakannya kenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketika batang penis Daud mengaduk-aduk lubang vaginanya.
“Teee…, russ…, Paak…, eeggh…, nikmat…, ooough..!”, erang Marina. Daud semakin gencar menyodok-nyodok vagina Marina, semakin cepat pula goyangan pinggul Marina mengimbanginya hingga, “Ouuuughh…, sa.., saya…, mmaau…, keluar.., Paak..”.
“Tahan…, sebentar…, sayang…, ooouggh..”.

Daud mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya. “aaGhh…”, jerit Marina sambil menekan pantat Daud dengan kedua kakinya ketika ia mencapai puncak kenikmatannya. Bersamaan dengan tekanan kaki Marina Daud menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan, “Eeegghh…, Ooouugh..”. “Creeeet…, creeet…, creeeeeeeet..”. Mengalirlah air mani Daud membasahi lubang kemaluan Marina yang sudah dibanjiri oleh air mani Marina. Merekapun mencapai puncak kenikmatannya. Keduanya terkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa dengan posisi tubuh Daud masih menindih Marina dan batang penisnya masih menancap dalam lubang kemaluan Marina.
Enam bulan kemudian, Marina dan Ria meninggalkan kota kecilnya. Mereka ikut Om Jalil ke Jakarta. Om Jalil belum lama mereka kenal, tetapi mereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang di kota kecilnya sendiri. Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terima di Jakarta nanti, diserahkan pada seorang germo yang namanya Tante Yeyet. Mereka pergi ikut Om Jalil tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Om Jalil menunggu mereka di stasion kereta api. Dari sanalah baru mereka bersama-sama menuju Jakarta. Ria berani ikut dengan Om Jalil ke Jakarta karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukit kemaluannya sudah ditoblos oleh Pandy. Pandy adalah pria yang sangat berpengalaman dengan wanita. Pandy pandai merayu. Dan Marinapun tergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi Pandy, ia merupakan orang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina Marina selain ayah tiri Marina.

Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan mereka di malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Jalil tidak dapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yang menggoda. Dengan sedikit memaksa Om Jalil mencoba untuk menggauli mereka. Pada waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidak terlalu banyak penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong. Kebetulan deretan bangku di depan mereka kosong. Waktu itu lampu penerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu remang-remang saja yang masih menyala menerangi keadaan gerbong yang mereka tumpangi.

“Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?”, tanya Om Jalil memulai pembicaraan.
“Belum Om”, jawab Ria dengan malu-malu.
“Sudah berapa kali kamu merasakannya, Ria?”, tanyanya sambil memegang paha Ria yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.
“Merasakan apa, Om?”, tanya Ria berpura-pura tak mengerti.
“Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu”, jawab Om Jalil dengan terus terang.
“Saya, saya baru merasakannya sekali Om”, jawab Ria sambil menunduk.
“Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?”, Om Jalil mulai menebar jaringnya. Ria hanya mengangguk tanpa berkata apapun.

“Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?”, mengalihkan pertanyaanya pada Marina.
“Dua kali, Om”, jawabnya singkat.
“Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman”. Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.
“Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian”, sambungnya sambil menghadap ke arah Ria.
“Bagaimana caranya Om?”.
“Dengan mencobanya langsung”, jawabnya tegas.
“Mencoba langsung, di mana Om?”.
“Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur”.
“Tetapi..”.
“Tenang saja biar Om yang mengaturnya”, potong Om Jalil sambil merangkul tubuh Ria yang ada di sebelah kanannya, lalu ia mulai menciumi bibir Ria. Ria terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalanan mereka ke Jakarta. Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin, tangan Om Jalil mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Ria melalui bagian bawah kaos ketat yang dikenakan Ria. Ria menggelinjang menikmati sentuhan tangan Om Jalil yang sangat lincah meremas payudaranya, apalagi bibir Om Jalil yang menggerayangi lehernya.

Semakin ganas Om Jalil menikmati bukit indah milik Ria yang putih mulus itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Ria. Sedangkan Marina hanya menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Jalil yang satu meraih tangan Marina. Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh di atas batang penisnya yang masih dalam celana. Marina mengerti maksud Om Jalil, dengan segan-segan dibukanya ikat pinggang Om Jalil lalu diturunkan ritsluitingnya, dikeluarkannya kemaluan yang sudah digenggamnya dari celana dalamnya. “mmhh…”, desah Om Jalil menikmati remasan tangan halus Marina pada batang penisnya. Sementara tangan kanan yang bebas menjelajah ke dalam rok mini Ria, jari tangan kanannya dengan lincahnya mencoba melepaskan celana dalam yang dikenakan Ria.

Ria mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Jalil melepaskan penutup belahan vaginanya, Ria mengangkat satu kakinya untuk melepaskan celana dalamnya yang melorot sampai di mata kaki, bersamaan dengan itu itu jari-jari Om Jalil menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkan clitoris yang ada di dalamnya. Ria gelagapan menahan nikmat yang dirasakannya pada clitorisnya yang dipilin jari-jari Om Jalil, serta gigitan-gigitan lembut pada puting susu kanannya serta belaian-belaian yang diselingi remasan nikmat pada buah dadanya yang kiri. Sementara Marina tidak lagi meremas batang penis Om Jalil, tetapi dia menggocok batang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu berjalan cukup lama hingga Om Jalil tak dapat lagi menahan nafsunya. “Pindahlah kamu ke bangku itu!” perintahnya pada Ria sambil menunjuk tempat duduk di seberang tempat duduk mereka.

Ria mengikuti perintah Om Jalil, dia duduk menyadar di tempat yang ditunjuk Om Jalil. Lalu Om Jalil berdiri menghadap Ria dengan batang penisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Ria, ditariknya kaki Ria hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, lalu dikangkangkannya paha Ria hingga tampak olehnya belahan indah yang dihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, lalu diarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubang vagina Ria. “Ssssshh…, aahh..”, desah gadis itu ketika dengan agak susah kepala penis itu memasuki lubang kemaluannya. Om Jalil sendiri merasakan nikmat luar biasa ketika kepala kemaluannya terjepit oleh bibir-bibir vagina Ria yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakan mendorongnya untuk menikmati pijitan bibir vagina itu di kepala penisnya. Sedangkan Marina hanya menyaksikan adegan itu dengan dada bergetar menghayalkan hal itu terjadi pada dirinya.

Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Jalil melanjutkan dorongan pantatnya hingga, “Blueess…”. Seluruh batang kemaluannya amblas memasuki vagina Ria. Sedangkan Ria mengerang tertahan merasakan betapa batang kemaluan Om Jalil yang besar menyumpal di dalam lorong kemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu. Kenikmatan itu bertambah ketika Om Jalil menarik keluar batang kemaluannya hingga menimbulkan gesekan yang mengguncang seluruh tubuh Ria. Om Jalil memepercepat gerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya hingga tubuh Ria terhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa dahsyatnya penis Om Jalil yang besar itu mengobrak-abrik lubang kemaluannya hingga membuatnya melenguh-lenguh nikmat.
“Ouuugh…, eeeghh…, te..ruuus.., ooom…, jaa..ngan…, berhenti.”, desah Ria tertahan menikmati tarian penis Om Jalil dalam lubang vaginanya yang semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan. Semakin lama gerakan Om Jalil semakin gencar, dan remasannya pada payudara Ria semakin gemas, ditambah dengan gerakan pinggul Ria yang membuat batang penis Om Jalil seret keluar masuk, membuat keduanya tak dapat bertahan lebih lama lagi, hingga.., “Aah…, ahh…, essst…, esssst..”, desah Om Jalil sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.
“Ouuugh…, eessstt…, eeengh…, aakh…, aakuu.., ti.., tidak.., taahaan.., laagi…, om..”, erang Ria hampir mencapai puncak orgasmenya.
“Tung..guu.., sayang…, aakku…, juuggaa…, mmau.., ngecret..!”, ucap Om Jalil terputus-putus sambil menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke dalam vagina Ria.
“aakuuu…, kee..keeluar.., Ooom..”.
“Akuuu…, juuggaa…, aaghh..”, dan, “Creeet.., creeet.., crettt.”, tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Jalil ke dalam vagina Ria.

Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama, cairan kental membanjiri vagina Ria dan membasahi penis Om Jalil. Sementara ketika Om Jalil dan Ria bertarung, Marina begitu terangsang melihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buah dadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorang diri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri. Om Jalil dan Ria sama-sama terkulai setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan, sedangkan Marina merasakan denyutan-denyutan dalam liang vaginanya merindukan sentuhan kemaluan lelaki di dinding-dindingnya, semakin ia menahan gejolak nafsu itu semakin menggejolak nafsu itu dalam dadanya, akhirnya ia tak kuasa menahan diri, Marina bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan selangkangan Om Jalil yang bersandar memejamkan mata di bangku sebelahnya, ditatapnya kemaluan Om Jalil yang menggantung lunglai, dibelainya kemaluan yang besar itu, walaupun belum tegak berdiri. Semakin lama belaiannya semakin menggebu lalu diremasnya penis yang mulai bangun perlahan-lahan karena remasan-remasan jemari lentik Marina.

Om Jalil membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat pada batang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Marina yang belum tahu bahwa Om Jalil sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya, Om Jalil berkata perlahan.
“Kau menginginkannya?”.
“I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu”, jawab Marina dikuasai oleh nafsunya. Lalu Om Jalil memegang bahu Marina lalu mengangkatnya berdiri, ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Marina telah dikuasai oleh nafsunya, mulailah Om Jalil membelai tubuh Marina yang mengenakan gaun terusan tanpa lengan yang begitu minim. Tangannya meraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan yang pendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itu sambil terus berdiri hingga pakaian Marina tertarik mengikuti gerakan berdiri Om Jalil, hingga Om Jalil berhasil melepaskan pakaian itu dari tubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam. Kembali Om Jalil membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk.

Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Marina yang hanya mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalam itu hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasi sekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yang menggairahkan hingga membuat darah Om Jalil menggelegar dan nafsunya mulai menanjak. Dengan kedua tangannya Om Jalil merengkuh bungkahan pantat Marina yang padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya Om Jalil melumat bibir kemaluan Marina dengan penuh nafsu. Marina mendesah kenikmatan sambil membelai rambut Om Jalil yang tengah melumat vaginanya.
“Ooouugh…, Ooomm…, lakukanlah.., Oom.., aa.., aku…, dah ti..daak.., taahhan…, lagi..!”.

Om Jalil hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan, “Baiklah. Sekarang naiklah ke pangkuanku”, suruh Om Jalil pada Marina. Marina mengikuti perintah Om Jalil, dengan cepat ia duduk di pangkuan Om Jalil. Penis Om Jalil yang tegak menghadap ke atas meleset miring diduduki oleh Marina. Om Jalil berkata, “Bukan begitu caranya, sekarang berdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!”, ajar Om Jalil pada Marina. Kini Marina mengangkangi Om Jalil yang duduk bersandar dengan penis tegak ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluan Marina. Kembali Om Jalil memberikan instruksi kepada Marina, “Kini genggamlah burungku!”. Marina menggenggam penis Om Jalil. “Arahkan ke lubang memekmu!”, Kembali Marina menuruti perintah Om Jalil tanpa berkata apapun. “Turunkan pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubang memekmu perlahan-lahan!”.

Marina mengerjakan semua perintah Om Jalil hingga…, “Sleeep….”, Kepala kemaluan Om Jalil yang besar itu menyelinap di antara dua bibir vagina Marina yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat. Marina mendesah kenikmatan, “Oough…”. Dipegangnya bahu Om Jalil yang sedang merem-melek menikmati jepitan sepasang bibir vagina Marina yang kenyal dan sempit. Dengan suara terputus-putus kenikmatan Om Jalil berkata, “Yaakh…, begitu, sekarang turunkan pantatmu agar burungku dapat masuk lebih dalam!”, Marina menghempaskan tubuhnya ke bawah, dirasakannya betapa penis Om Jalil yang besar dan panjang itu menerobos ke dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuh oleh benda apapun karena penis Om Jalil adalah penis paling besar dan panjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan Marina sebelumnya. Om Jalil sendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Marina yang seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa.

Dirangkulnya tubuh Marina untuk melampiaskan getaran kenikmatan yang dirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapun karena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Hanya getaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayang dalam arus kenikmatan bercinta.

Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Jalil yang lebih mirip desahan.
“Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!”.
“Eest.., baikh.., Om..”, jawab Marina sambil mulai mengangkat tubuhnya, terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Jalil di dalam liang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkan penis Om Jalil kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyut kenikmatan. Hal itu dilakukan Marina berulang kali seiring dengan getaran kereta yang menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lama gerakan Marina semakin gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Jalil tidak hanya diam saja, ia mengiringi gerakan pantat Marina dengan menaikkan pantatnya bila Marina menghentakkan pantatnya membenamkan penis Om Jalil. Marina mendesah-desah menikmati permainanan yang hebat itu.

“Eeeghh…, niikhmat…, sekhali…, Om..”
“Yaakh…, memang.., nikhmat memekmu ini Mar…, oouggh..”.
“Ooomm…, hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om..” pinta Marina, sambil menarik kepala Om Jalil ke arah dadanya yang dibusungkan menantang itu. Segera saja Om Jalil melepaskan satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuh Marina, menggelembunglah payudara yang kenyal menegang setelah Om Jalil menarik lepas penutup benda indah itu. Mulailah Om Jalil menjilati puting susu Marina yang merah menantang itu, tidak hanya sampai di situ saja, Om Jalil menghisap rakus buah dada yang benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan kedua tangannya meremas buah pantat Marina yang padat berisi dan membantunya turun naik menenggelamkan penisnya. Semakin lama gerakan keduanya samakin menggila desahan-desahan tak henti-hentinya keluar dari sepasang insan itu.

“Oooooogh…, oough…, akhh…, ahh…”, desahan Marina menikmati tarian penis Om Jalil yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakin licin dan basah. Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatan sehingga, “Eeeeest…, Ooough…, lebihh…, ceepat lagi…, Sayaang.., aku maau keeeluaar..!”.
“Yaakhh…, aku…, juga..,. sudahh…, tidak.., taahaan.., laagi…, Ooooomm”.
Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakan meledakkan dada mereka hingga, “Ooough…, Akuu…, keluaar…, sayang..”
“Akhuu.., aakhh…”.
“Creeet.., creet.., creettt..”, Keduanya saling berangkulan dengan erat menikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat. Marina berdiri mengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaian dan kembali lunglai di bangkunya menyusul Ria yang sudah terlelap. Sedang Om Jalil menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dan kembali memejamkan matanya. Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagi erangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan, tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.

Gara-gara Salah SMS

Gara-gara Salah SMS
Maret 1st, 2007
Hai pembaca. Perkenalkan, namaku adalah Alex (bukan nama asli tentunya). Aku lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung. Bagiku, seks adalah hal yang tabu, yang benar-benar tak terjamah. Terpikirkan pun tidak, sampai kisah ini aku alami. Apalagi saat kuliah dulu aku adalah salah seorang akTVis kerohanian.
Kisah ini dimulai dari salah SMS. Saat itu, aku berniat mengirim SMS ke seorang teman (wanita) lama yang kukenal. Karena sudah tidak lama berhubungan, dan aku tidak punya catatan tentang nomor HP temanku tersebut, maka aku menuliskan nomor HP dengan agak mereka-reka. Segera kukirimkan SMS tersebut, berisi pesan yang kira-kira menyatakan bahwa aku kangen dan ingin bertemu dengannya.
Satu kali SMS kukirim kepadanya, dia tidak menjawab. “Aneh”, pkirku. Tak mungkin temanku itu tidak membalas kalau tahu SMS tersebut dariku. Kemudian kukirimkan sekali lagi, dan kucantumkan namaku. Tak lama kemudian, ia membalas dengan miss call. Karena saat itu aku sedang sibuk, kubalas saja miss call nya dengan pesan SMS yang menyatakan bahwa aku akan meneleponnya sore nanti.
Sore, pukul 17.00. Segera kutelepon temanku itu, seperti yang kujanjikan. “Halo, Nadia?”, tanyaku sejenak, ragu. “I think you’ve called a wrong number”, begitu tanggapan lawan bicaraku. “Oh, maaf. Saya pikir anda adalah teman saya. Memang saya tidak ingat betul nomor HP-nya. Maaf kalau telah mengganggu”, jawabku sambil menahan malu. “Oh, tidak apa-apa”, jawab lawan bicaraku lagi. Saat itu juga hendak kumatikan teleponku, namun lawan bicaraku segera bertanya. “Memang yang mau kamu telepon ini siapa sih? Kok pake kangen2 segala?”, ungkapnya, menggoda. Lalu kujawab bahwa Nadia adalah teman lamaku, dan kami telah berkawan selama 6 tahun. Singkat kata, akhirnya kami berkenalan. Dari telepon itu, aku tahu bahwa nama wanita tersebut adalah Mia.
Sejak saat itu, kami sering berkirim SMS. Kadang-kadang aku malah menelponnya. Namun, tidak ada niat sedikitpun dalam diriku untuk menemuinya, atau melihat wajahnya. Toh tidak ada maksud apa-apa, pikirku. Dua bulan berjalan sejak perkenalan itu, entah mengapa, isi pesan SMS berubah menjadi hal-hal yang agak menjurus ke seks.
Tiga bulan berjalan sejak perkenalan kami lewat telepon. Tiba-tiba, Mia mengirim SMS yang menyatakan ingin bertemu. “Mengapa tidak”, kupikir. Toh tidak ada ruginya untukku. Saat itu pikiranku belum berpikir jauh sampai ke seks. Kami janjian sore pukul 17.00. Kebetulan hari itu hari libur. Setelah tiba di tempat yang dijanjikan, aku segera meneleponnya. “Gua pake sweater pink”, kata Mia. Segera kutemui Mia yang sedang berdiri menunggu. “Hai, Mia ya?”, tanyaku. Mia segera tersenyum. Wajahnya memang tidak cantik, tubuhnya pun tidak aduhai seperti poster swimsuit di majalah Popular. Namun, aku memang tidak terlalu mempermasalahkan penampilan fisik. Segera kuperkenalkan diriku. “Gua Alex”, kataku. Memang pergaulanku dengan wanita tidak intens, sehingga saat itu aku sedikit gugup. Namun, segera kututupi kegugupanku dengan sedikit jaim (jaga image). Kami segera menjadi akrab. Kami berbicara sebentar sambil menikmati makanan di sebuah food court.
“Lex, suka nyanyi-nyanyi gak?”, tanya Mia setelah kami selesai makan. “Suka, tapi tidak di depan umum”, begitu jawabku. “Sama dong. Kalo gitu, mau gak kamu saya ajak utk nyanyi di karaoke? Kita bisa pesan private room kok, jadi tidak ada orang lain.” tanya Mia. Kupikir, asyik juga ya, untuk melepas lelah. Segera kami meluncur ke sebuah karaoke terdekat menggunakan mobilku.
Setibanya di sana, kami memesan tempat untuk dua orang. Kami segera dituntun masuk oleh seorang wanita. Ruangannya agak remang-remang, dan ditutupi gorden, jadi memang tidak akan terlihat dari luar. Sambil waitress menyiapkan ruangan, kami memesan minuman. Mia permisi kepadaku untuk ke toilet. Tepat setelah waitress menyiapkan ruangan dan minuman, Mia kembali. Kurasa agak aneh waktu itu karena aroma wewangiannya kian tajam. Namun, tidak kupedulikan.
Segera kami mulai memasang lagu kesukaan kami, dan kami bernyanyi-nyanyi. Sampai tibalah kami di lagu yang kelima. Mia memesan lagu yang lembut, dan agak romantis. Sebelum lagu tersebut dimulai, tak sengaja punggung tanganku menyentuh punggung tangan Mia. “Halus sekali”, pikirku. Sayang sekali tanganku untuk berpindah dari punggung tangannya, sehingga kubiarkan saja di situ. Mia pun diam saja, tidak berusaha melepaskan sentuhan tangannya dari tanganku. “Dingin ya?”, tanya Mia, kepadaku, sambil melihat tanganku. “Iya”, jawabku mengangguk lemah. Segera Mia mendekatkan tanganku ke tangannya. Tanganku segera menggenggam jari-jarinya. Kami bernyanyi sambil menikmati kehangatan tersebut. Pelan-pelan, naluriku mulai berjalan. Ingin sekali aku mengelus pipinya yang lembut, namun aku agak takut-takut. Perlahan-lahan Mia mendekatkan bahunya ke bahuku sehingga kami duduk sangat dekat.
Wangi aroma tubuh Mia segera membius diriku. Tak kupedulikan lagi ketakutanku. Segera kubelai pipi dan kening Mia. Ia menatapku. Aku balas menatapnya. Lalu kuusap lembut rambutnya. Darah kelelakianku segera berdesir. Kukecup keningnya. Mia diam saja. Kukecup rambut dan pipinya, segera aroma tubuhnya kembali membius diriku. Mia benar-benar kuperlakukan seperti pacarku sendiri. Tiba-tiba timbul gelora yang besar untuk memeluknya. Mia sepertinya mengerti karena dia segera mengubah posisi duduknya sehingga memudahkanku untuk memeluknya. Segera kupeluk Mia dengan rasa sayang.
Tiba-tiba Mia menarik tanganku ke dada kirinya. Segera kurasakan bagian lembut kewanitaannya tersebut. Nikmat sekali, namun dengan rasa agak takut. Pelan-pelan kusentuh buah dadanya yang lembut itu. Mia diam saja. Aku mulai berani. Ku elus-elus buah dadanya, perlahan-lahan, dengan gerakan memutar, tanpa menyentuh bagian putingnya. Aku semakin berani. Tangan kananku kumasukkan ke dalam sweater merahnya. Segera ku elus bukit lembut tersebut di bagian pinggirannya. Ku putar-putar tanganku mengelilingi putingnya. Setelah beberapa saat, kusentuh putingnya. Ternyata putingnya sudah mengeras. Lalu kuremas dengan lembut. Mia mendesah. “Ssshh”, desahnya.
Kulanjutkan penjelajahanku ke dada kanannya. Kuulangi hal yang sama. Lagi-lagi Mia mendesah. Segera ia memagut bibirku, dan melumatnya. Saat kujulurkan lidahku, segera dihisapnya kuat-kuat. “Oh, nikmat sekali berciuman seperti ini”, pikirku karena memang aku belum pernah berciuman dengan wanita. Badanku bergetar hebat, karena aku belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Kami lanjutkan permainan kami beberapa saat. Setelah itu, kami berhenti untuk menikmati minuman kami. Kusodorkan sedotan minumanku untuk diminum terlebih dulu oleh Mia. Kemudian kami lanjutkan nyanyian kami sambil berpelukan. Nyaman sekali rasanya saat itu.
Kuteruskan permainan tanganku dengan lembut, mengelus dan meremas dengan lembut buah dada Mia. Mia kembali memagut bibirku. Kami berciuman hebat. Tiba-tiba Mia menarik tanganku, dan memasukan tanganku ke dalam celana panjangnya. Segera terasa bulu-bulu halus kemaluannya tersentuh oleh tanganku. Pelan-pelan kudorong tanganku ke bawah, menuju organ intimnya. Segera terasa tanganku menyentuh vaginanya yang hangat dan basah. “Montok kan punya gua?”, begitu ungkap Mia saat tanganku mengelus lembut vaginanya. Segera kuiyakan pertanyaannya itu, padahal aku tidak bisa membedakan seperti apa vagina yang tidak montok. Kuusap terus vaginanya, seraya desahan Mia mengiringi gerakanku. “Sssh.. Oh, Alex. Baru kamu laki-laki yang bisa memperlakukanku dengan lembut”, begitu terus desahnya. Tersanjung juga aku dipuji dirinya.
Kami terus bercumbu sampai tak terasa dua jam berlalu. “Lex, kamu jangan pulang dulu ya. Aku ingin dikelonin sama kamu. Temani sebentar aku di hotel ya?”, tanya Mia kepadaku. Saat itu, aku agak takut. Takut aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur dengannya. Segera kuingat ajaran2 agama yang melarangku melakukannya. Namun sepertinya Mia mengerti ketakutanku. “Aku cuma minta dibelai kok. Tidak lebih. Ya, Lex?”, tanyanya dengan mata memohon. Berat sekali rasanya untuk mengiyakan permintaannya. Di satu sisi, aku takut sekali melanggar ajaran agama. Lagipula, aku banyak tugas yang malam itu harus kuselesaikan. Namun sisi kemanusiaanku membuat aku tidak tega menolaknya. “Baiklah, tapi tidak lebih dari itu ya?”, jawabku. “Iya, gua janji deh”, kata Mia lagi.
Kami segera keluar dari ruangan, membayar ke kasir, dan meluncur ke sebuah hotel menggunakan mobilku. Mia menjadi penunjuk jalan. Setelah membayar uang deposit di kasir hotel, kami segera melenggang ke dalam kamar. Di dalam kamar, aku menyalakan televisi. Sejenak kami menikmati sebuah film. Tak lama kemudian, Mia membentangkan tubuhnya di kamar tsb. “Lex, sini dong”, kata Mia. Aku mengubah posisi duduk ku di ranjang mendekati Mia. Aku dalam posisi duduk, sementara Mia sudah telentang. “Lex, belai aku lagi ya”, kata Mia. Segera tanganku mengelus dahi Mia. Kuelus-elus dahinya beberapa lama, turun ke pipi, lalu ke rambutnya yang panjang.
Mia menikmati gerakanku sambil menutup mata. Lalu kusandarkan tubuhku ke ranjang, kukecup lembut kening dan dahinya. Mia membuka matanya, tersenyum. Lalu kucium kelopak matanya. Mia benar-benar menikmati perlakuanku. Perlahan kukecup lembut bibirnya. Aku hanya menyentuhkan bibirku di bibirnya. Namun segera Mia menjerat bibirku di bibirnya. Dilumat bibirku dengan bergairah, sementara tangannya dengan kuat memelukku. Kujulurkan lidahku untuk menyentuh bibir bawahnya, namun Mia segera menghisap bibirku tersebut. Segera kuarahkan ciumanku ke bagian telinganya, dan kujilat bagian dalam daun telinganya dengan lidahku.
Mia meronta-ronta dan mendesah. “Aduh Lex, geli sekali. Teruskan Lex”, katanya. Kucumbu Mia terus di telinganya. Kemudian kuarahkan cumbuanku ke lehernya. Mia mendesah hebat. “Ssshh.. sshh.. ohh”, desah Mia. Aku tidak bisa menahan diriku lagi. “Mia, boleh kubuka bajumu?”, tanyaku pelan kepada Mia. Mia mengangguk, tersenyum. Perlahan-lahan kubuka kancing bajunya. Terlihatlah tubuhnya yang putih mulus, dengan bra berwarna biru. Kulanjutkan ciumanku di seputar dadanya. Tak lupa kukecup pelan ketiaknya yang bersih tanpa bulu. Mia mengerang. “Lex, buka beha gua dong”, pinta Mia. Segera kuarahkan tanganku ke punggungnya untuk membuka behanya. Sulit sekali membuka behanya. Maklum, belum pernah aku membuka beha wanita.
Setelah terbuka, pelan-pelan kutanggalkan behanya. Segera tampak bukit indahnya yang putih bersih, tanpa cacat, dengan puting kecoklatan. Indah sekali, pikirku. Ingin sekali aku menciumnya. Kupindahkan behanya dan bajunya ke meja supaya tidak kusut. Lalu, pelan-pelan kubasahi buah dadanya dengan lidahku. Kuputar wajahku memutari payudaranya. Mia mendesah lagi. Gerakan itu terus kuulang beberapa kali, lalu berpindah ke payudara kanannya. Di sana kuulangi lagi gerakanku sebelum akhirnya lidahku tiba di puncak payudaranya. Kubasahi putingnya dengan lidahku, kumain-mainkan, kukulum, dan kuhisap. Mia mengerang-ngerang. “Aduh, Lex..ssh..ssh.. geli sekali. Terus Lex..”. Sambil mengulum putingnya, pelan2 kuelus bagian perutnya. “Auw.. enak Lex..”, Mia menekan wajahku ke dadanya. Kira-kira 15 menit Mia kuperlakukan seperti itu.
“Lex, bukain celana panjangku dong..”, pinta Mia. Segera kubuka kancing celananya, dan kupelorotkan ke bawah. Terlihatlah pahanya yang putih bersih, dan kewanitaannya yang masih tertutupi CD. Masih mengulum putingnya, segera kuarahkan tanganku ke selangkangannya. Kuelus-elus perlahan. Kugerakan tanganku dari dekat lututnya, terus bergerak sedikit demi sedikit ke arah pangkal pahanya.”ohh..”, rintih Mia menahan kenikmatan yang kuberikan. Kuelus vaginanya yang masih tertutupi CD. Ternyata CD-nya sudah basah. Kubelai pelan-pelan bagian tersebut. Mia meronta-ronta, dijepitnya tanganku dengan kedua belah pahanya. “Oh.. ohh..” ronta Mia. Gantian tangan Mia yang masuk ke celana dalamku. Dipegangnya kemaluanku, lalu dikocok pelan-pelan. Uuh, nikmat sekali rasanya.. “Lex, buka celana dalam gua..”, pinta Mia. “Jangan Mia, gua gak berani melakukan itu..” kataku.
Aku bukan bermaksud munafik, tapi aku memang benar-benar takut saat itu, karena belum pernah melakukannya. “Tak apa-apa, Lex, tidak usah dimasukin. Gua cuma minta diciumi aja”, pinta Mia memohon. Akhirnya kubuka celana dalam Mia. Kunikmati pemandangan indah dihadapanku. Oh, indah sekali makhluk bernama wanita ini, pikirku. “Elus lagi, Lex..”, pinta Mia. Perlahan-lahan, tanganku mulai mengelus bibir vaginanya yang sudah basah. Kuputar-putar jariku dengan lembut di sana. Lagi-lagi Mia meronta.” Ohh..ohh. Ke atas lagi Lex. Elus klitorisku”, begitu desahnya perlahan. Aku tidak tahu persis di mana klitoris. Aku terus mengelus bibir vaginanya. Segera tangan Mia membimbing tanganku ke klitorisnya.
Baru sekali itu aku tahu bentuk klitoris. Mungil dan menggemaskan. Dengan lembut kuputar-putar jariku di atas klitorisnya. Setiap 5 putaran, Mia langsung mengepit tanganku dengan pahanya. Sepertinya ia benar2 menikmati perlakuanku. “Lex, tolong hisap klitorisku, yah?”, pinta Mia. Aku sedikit ragu, dan jijik. “Pake tangan aja yah, Mia..”, aku berusaha menolak dengan halus. “Tolong dong, Lex. Sekali ini saja. Nanti gantian deh “, pinta Mia. Aku masih berat hati menghisapnya. “Mia, maaf ya. Tapi kan itu kemaluan. Apa nanti..”. Belum selesai aku bicara, Mia segera memotongku. “Kemaluanku bersih kok, Lex. Aku selalu menggunakan antiseptik. Tolong ya.. sebentar saja, kok”, pinta Mia lagi.
Perlahan-lahan kudekatkan mulutku ke kemaluan Mia. Segera tercium aroma yang tidak bisa kugambarkan. Perlahan-lahan kujulurkan lidahku ke klitorisnya. Aku takut sekali kalau rasanya tidak enak atau bau. Kukecap lidahku ke vaginanya. Ternyata tawar, tidak ada rasa apa-apa. “Terus, Lex..ohh.. enak sekali”, desah Mia. Kuulangi lagi, pelan-pelan. Lama-lama rasa takut dan jijikku hilang, malah berganti dengan gairah. Kuulang-ulang menjilati vaginanya. Mia makin mendesah. “ooh.. oohh.. ohh.. ohh”. Mia menggenggam jari telunjukku, lalu memasukkan ke dalam liang kemaluannya. “Kamu nanti tidak kesakitan?”, tanyaku kepadanya. Ia menggeleng pelan. Lalu, kuputar-putar jariku di dalam vaginanya. “Ahh..”, Mia menjerit kecil. Kuputar jariku tanpa menghentikan jilatanku ke vaginanya.
Saat kuarahkan jariku ke langit-langit kemaluannya, terasa ada bagian yang agak kasar. Kuelus pelan bagian tersebut, berkali-kali. ‘Ya, terus di situ Lex.. ahh.. enak sekali..” Kuteruskan untuk beberapa saat. Mia makin membuka lebar-lebar pahanya. Tiba-tiba Mia menggerakkan pantatnya ke atas dan bawah, berlawanan dengan arah jilatanku. “Ah Lex.. aku mau keluaar..” erang Mia. Mia makin mempercepat gerakannya, dan tiba-tiba gerakan pantatnya dia hentikan, lalu dikepitnya kepalaku dengan pahanya. “Ahh.. Lex..aku keluar”, desahnya. Segera kupeluk tubuh Mia, dan kugenggam tangannya erat. Kubiarkan Mia menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat, kuelus-elus dahi dan rambutnya. “Lex, enak sekali”, kata Mia. Aku diam saja.
“Sekarang gantian, ya”, kata Mia. Aku mengangguk pasrah, antara mau dan takut. Diputarnya tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku sekarang. Dibukanya celana dan celana dalamku. Malu sekali rasanya saat itu. Segera kututupi kemaluanku yang masih terduduk lemas. Sepertinya Mia mengerti perasaanku. Ia segera mematikan lampu kamar. Aku merasa lebih tenang jadinya. Lalu, dibukanya pahaku yang menutupi kemaluanku. Mia segera meraba-raba kemaluanku. Oh, geli sekali rasanya. Rasa geli itu membuatku secara refleks menggelinjang. Mia tertawa. “Enak kan, Lex?” tanyanya menggodaku. Sial nih orang, pikirku. Dikerjain gua. “Mau diterusin gak, Lex?” tanya Mia sambil menggoda lagi. Aku hanya mengangguk.
Saat itu kemaluanku belum berdiri. Aneh sekali. Padahal biasanya kalo melihat adegan yg sedikit porno, punyaku langsung keras. Akhirnya Mia mendekatkan mulutnya ke kemaluanku. Dikecupnya ujung kemaluanku perlahan. Ada getaran dashyat dalam diriku saat kecupannya mendarat di sana. “Lex, punya kamu enak. Bersih dan terawat”, ujar Mia. Geer juga aku dipuji begitu. Dipegangnya gagang kemaluanku, lalu Mia mulai menjilati kemaluanku. Ya ampun, pikirku. Geli sekali.. Secara reflek aku meronta, melepaskan kemaluanku dari mulut Mia. “Kenapa, Lex?”, tanya Mia. “Gua gak tahan. Geli banget, sih?”, kataku protes. “Ya udah, pelan-pelan aja, ya?”, kata Mia. Aku mengangguk lagi. Mia mulai memperlambat tempo permainannya. Rasa geli masih menjalari tubuhku, tapi dengan diikuti rasa nyaman.
Kuperhatikan Mia menjilati kemaluanku, tak terasa kemaluanku segera mengeras. Mia senang sekali melihatnya. Segera dilahap kembali kemaluanku itu, kali ini sambil dikocok-kocok dengan tangannya. Sekali lagi aku disiksanya dengan rasa geli yang amat sangat. Kunikmati permainannya, tak terkira nikmatnya. Ya ampun, baru sekali ini kurasakan kenikmatan yang tiada tara seperti ini. “Ah..”, tak kuasa aku menahan desahanku. “Lex, kumasukan ya punyamu?”, tanya Mia. “Nanti kamu sakit, gak?”, tanyaku. Aku sudah tak bisa menguasai diri lagi. Ingin sekali rasanya kemaluanku dikepit oleh vaginanya. “Ya, kalau aku yang ngontrol sih, gak sakit”, kata Mia. “Ya udah, kamu yang di atas aja”, kataku kepadanya.
Mia segera mengubah posisi tubuhnya. Ia kangkangkan pahanya di atas tubuhku, lalu pelan-pelan dibimbingnya penisku menuju liang kemaluannya. Ditekannya sedikit, masuklah sedikit ujung kemaluanku ke dalam. Terasa sedikit basah dan licin kemaluannya. Didiamkan punyaku di sana utk beberapa saat. Aku diam menunggu. Lalu ditekannya sedikit lagi. Kali ini punyaku masuk lebih dalam dan makin terasa cairan pelicin kemaluannya. Sudah sepertiga dari panjang kemaluanku yang berada dalam vaginanya. Dia diamkan lagi penisku di sana beberapa saat. Ia sedikit mengernyit. “Sakit?”, kutanya. “Iya, tapi gak apa2. “, jawab Mia. Kemudian ia mendorong penisku makin dalam, hingga akhirnya semua penisku tertelan di dalam vaginanya. Terasa basah dan hangat vaginanya. Nikmat dan geli sekali rasanya. Setelah beberapa saat, Mia mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Ahh.. enak sekali menikmati penisku terjepit dalam vagina Mia.
Gerakan pantat Mia membuat penisku terkocok, dan segera aku merasakan kenikmatan yang tiada tara. Mia pun seakan-akan begitu. “Ohh.. ohh.. ohh.. ohh”, Mia mengerang-ngerang. Mia terus menggerakan pinggulnya naik dan turun selama beberapa saat dengan diiringi desahan. Tiba-tiba ia berhenti. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan kesal dalam diriku. Namun, ternyata Mia tidak berhenti begitu saja. Kini pinggulnya digerakan tidak naik-turun lagi, tapi maju mundur, dan terkadang berputar. Sepertinya Mia sangat menikmati gerakan ini, terbukti erangannya semakin sering. “Ah.. ah.. ahh.. ahh..”, desahnya terus, tanpa henti. Kuremas dengan lembut payudaranya, Mia makin merintih. “Sssh.. ssh.. sshh.. enak Lex” .
Makin lama gerakan Mia makin cepat. “Lex, aku mau keluar lagi, Lex..” rintihnya. Aku pun merasa penisku berdenyut kencang. “Mia, tolong lepaskan, aku mau keluar”, kataku. Aku takut sekali kalau sampai Mia hamil. Tapi Mia tidak mau melepaskan penisku. Ditekannya kuat tanganku dengan kedua tangannya sehingga aku tidak bisa melepaskan diri darinya. Tiba-tiba kurasa penisku menyemburkan cairan kuat di dalam vaginanya. “Aduh, Mia, jangan.. nanti kamu hamil..”, teriakku, sesaat sebelum cairanku keluar. Tapi semua sudah terlambat. Semua cairanku sudah keluar dalam vaginanya. Nikmat sekali rasanya, namun terasa lemas tubuhku sesudahnya. Segera otot-otot penisku mengerut, dan menjadi kecil kembali.
Mia dengan kecewa melepaskan penisku. “Mia, kalo kamu hamil gimana”, tanyaku dengan setengah takut. “Tenang aja, Lex. Gua pake alat kontrasepsi kok. Kamu gak perlu takut, ya?”, kata Mia menenangkan diriku. Kemudian, Mia segera memijat-mijt penisku. Dielus, dan di kulum lagi seperti tadi. Tak lama, penisku segera mengejang lagi. Segera penisku dimasukan lagi oleh Mia ke vaginanya. Kembali Mia melakukan gerakan maju mundur tadi. “ohh.. ohh.. ohh.. oohh”, erangnya. Kuremas lembut payudaranya. “Ssshh.. sshh.. sshh”, begitu terus rintihannya. Selama beberapa saat Mia mengocok penisku dengan vaginanya, sampai akhirnya ia berteriak. “Lex, aku hampir keluar”, desah Mia. Segera Mia mempercepat gerakannya. Aku pun membantunya dengan menggerakan pinggulku berlawanan dengan arah gerakannya. “Ahh.. Lex, aku keluar”, desahnya agak keras. Sejenak ia menikmati orgasmenya, sebelum rubuh ke dalam pelukanku. Kubiarkan ia menikmati orgasmenya, kuelus rambutnya, dan kukecup keningnya. Kami berpelukan, dan tidur tanpa busana sampai pagi hari.
Mia, dimanapun kau berada, kuingin kau tau, kaulah kenangan indahku yang pertama.

sepupuku

Cerita ini terjadi pada tahun 1997. Ini merupakan ceritaku asli/nyata. Pada saat aku masih kuliah di semester 2, ibuku sakit dan dirawat di kota S. Oh, iya aku tinggal di kota L. Cukup jauh sih dari kota S. Karena ibuku sakit, sehingga tidak ada yang masak dan menunggu dagangan. Soalnya adik-adikku semua masih sekolah. Akhirnya aku usul kepada ibuku kalau sepupuku yang ada di kota lain menginap di sini (di rumahku). Dan ide itu pun disetujui. Maka datanglah sepupuku tadi.

Sepupuku (selanjutnya aku panggil Anita) orangnya sih tidak terlalu cantik, tingginya sekitar 160 cm, dadanya masih kecil (tidak nampak montok seperti sekarang). Tetapi dia itu akrab sekali dengan aku. Aku dianggapnya seperti kakak sendiri.

Nah kejadiannya itu waktu aku lagi liburan semester. Waktu liburan itu aku banyak menghabiskan waktu untuk menunggu dagangan ibuku. Otomatis dong aku banyak menghabiskan waktu dengan Anita. Mula-mulanya sih biasa-biasa saja, layaknya hubungan kami sebagai sepupu. Suatu malam, kami (aku, Anita, dan adik-adikku) sudah ingin tidur. Adikku masing-masing tidur di kamarnya masing-masing. Sedang aku yang suka menonton TV, memilih tidur di depan TV. Nah, ketika sedang menonton TV, datang Anita dan nonton bersamaku, rupanya Anita belum tidur juga.

Sambil nonton, kami berdua bercerita mengenai segala hal yang bisa kami ceritakan, tentang diri kami masing-masing dan teman-teman kami. Nah, ketika kami sedang nonton TV, dimana film di TV ada adegan ciuman antara laki-laki dan perempuan (sorry udah lupa tuh judul filmnya).
Eh, Anita itu merespon dan bicara padaku, “Wah temenku sih biasa begituan (ciuman).”
Terus aku jawab, “Eh.. kok tau..?”
Rupanya teman Anita yang pacaran itu suka cerita ke Anita kalau dia waktu pacaran pernah ciuman bahkan sampai ‘anu’ teman Anita itu sering dimasuki jari pacarnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai dua jarinya masuk.

Setelah kukomentari lebih lanjut, aku menebak bahwa Anita nih ingin juga kali. Terus aku bertanya padanya, “Eh, kamu mau juga nggak..?”
Tanpa kuduga, ternyata dia mau. Wah kebetulan nih.
Dia bahkan bertanya, “Sakit nggak sih..?”
Ya kujawab saja, “Ya nggak tau lah, wong belum pernah… Gimana.., mau nggak..?”
Anita berkata, “Iya deh, tapi pelan-pelan ya..? Kata temenku kalo jarinya masuk dengan kasar, ‘anunya’ jadi sakit.”
“Iya deh..!” jawabku.

Kami berdua masih terus menonton film di TV. Waktu itu kami tiduran di lantai. Kudekati dia dan langsung tanganku menuju selangkangannya (to the point bok..!). Kuselusupkan tangan kananku ke dalam CD-nya dan kuelus-elus dengan lembutnya. Anita tidak menolak, bahkan dengan sengaja merebahkan tubuhnya, dan kakinya agak diselonjorkan. Saat merabanya, aku seperti memegang pembalut, dan setelah kutanyakan ternyata memang sejak 5 hari lalu dia sedang menstruasi.

Aku tidak mencoba membuka pakaian maupun CD-nya, maklumlah takut kalau ketahuan sama adik-adikku. Dengan CD masih melekat di tubuhnya, kuraba daerah di atas kemaluannya. Kurasakan bulu kemaluannya masih lembut, tapi sudah agak banyak seperti bulu-bulu yang ada di tanganku. Kuraba terus dengan lembut, tapi belum sampai menyentuh ‘anunya’, dan terdengar suara desisan walau tidak keras. Kemudian kurasakan sekarang dia berusaha mengangkat pantatnya agar jari-jariku segera menyentuh kemaluannya. Segera kupenuhi keinginannya itu.

Waktu pertama kusentuh kemaluannya, dia terjengat dan mendesis. Kugosok-gosok bibir kewanitaannya sekitar 5 menit, dan akhirnya kumasukkan jari tengahku ke liang senggamanya.
“Auw..,” begitu reaksinya setelah jariku masuk setengahnya dan tangannya memegangi tanganku.
Setelah itu dengan pelan kukeluarkan jariku, “Eeessshhh…” desisnya.
Lalu kutanya, “Gimana..? Sakit..?”
Dia menggeleng dan tanpa kusadari tangannya kini memegang telapak tangan kananku (yang berada di dalam CD-nya), seakan memberi komando kepadaku untuk meneruskan kerjaku.

Sambil terus kukeluar-masukkan jariku, Anita juga tampak meram serta mendesis-desis keenakan. Sementara terasa di dalam CD-ku, batang kemaluanku juga bangun, tapi aku belum berani untuk meminta Anita memegang rudalku (padahal aku sudah ingin sekali). Sekitar 10 menit peristiwa itu terjadi. Kulihat dia tambah keras desisannya dan kedua kakinya dirapatkan ke kaki kiriku. Sepertinya dia telah mengalami klimaks, dan kami akhirnya tidur di kamar masing-masing.

Hari berikutnya, aku dan Anita siap-siap membuka warung, adikku pada berangkat sekolah, sehingga hanya ada aku dan Anita di warung. Hari itu Anita jadi lebih berani padaku. Di dalam warungku sambil duduk dia berani memegang tanganku dan menuntunnya untuk memegang kemaluannya. Waktu itu dia memakai hem dan rok di atas lutut, hingga aku langsung bisa memegang selangkangannya yang terhalang CD dan pembalut. Kaget juga aku, soalnya ini kan lagi ada di warung.
“Nggak pa-pa Mas.., khan lagi sepi.” katanya dengan enteng seakan mengerti yang kupikirkan.
“Lha kalo ada pembeli gimana nanti..?” tanyaku.
“Ya udahan dulu, baru setelah pembelinya balik, kita lanjutin lagi, ok..?” jawabnya.

Dengan terpaksa kuraba-raba selangkangannya. Hal tersebut kulakukan sambil mengawasi di luar warung kalau-kalau nanti ada pembeli datang. Sementara aku mengelus selangkangannya, Anita mencengkeram pahaku sambil bibirnya digigit pelan tanda menikmati balaianku. Peristiwa itu kuakui sangat membuatku terangsang sekali, sehingga celana pendekku langsung terlihat menonjol yang bertanda batang kejantananku ingin berontak.

“Lho Mas, anunya Mas kok ngaceng..?” katanya.
Ternyata dia melihatku, kujawab, “Iya ini sih tandanya aku masih normal…”
Aku terus melanjutkan pekerjaanku. Tanpa kusadari dia pun mengelus-elus celanaku, tepat di bagian batang kemaluanku. Kadang dia juga menggenggam kemaluanku sehingga aku juga merasa keenakan. Baru mau kumasukkan tanganku ke CD-nya, tiba-tiba aku melihat di kejauhan ada anak yang sepertinya mau membeli sesuatu di warungku.
Kubisiki dia, “Heh ada orang tuh..! Stop dulu ya..?”

Aku menghentikan elusanku, dia berdiri dan berjalan ke depan warung. Benar saja, untung kami segera menghentikan kegiatan kami, kalo tidak, wah bisa berabe nanti. Sehabis melayani anak itu, dia balik lagi duduk di sebelahku dan kami memulai lagi kegiatan kami yang terhenti. Seharian kami melakukannya, tapi aku tidak membuka CD-nya, karena terlalu beresiko. Jadi kami seharian hanya saling mengelus di bagian luar saja.

Malam harinya kami melakukan lagi. Aku sendirian nonton TV, sementara adikku semua sudah tidur. Tiba-tiba dia mendatangiku dan ikut tiduran di lantai, di dekatku sambil nonton TV. Kemudian tiba-tiba dia memegang tanganku dan dituntun ke selangkangannya. Aku yang langsung diperlakukan demikian merasa mengerti dan langsung aku masuk ke dalam CD-nya, dan langsung memasukkan jariku ke kemaluannya. Sedangkan dia juga langsung memegang batang kejantananku.

“Aku copot ya CD kamu, biar lebih enakan.” kataku.
Dia mengangguk dan aku langsung mencopot CD-nya. Saat itu dia memakai rok mininya yang tadi, sehingga dengan mudah aku mencopotnya dan langsung tanganku mengorek-ngorek lembah kewanitaannya dengan jari telunjukku. Aku juga menyuruh mengeluarkan batang kejantananku dari CD-ku, sehingga dia kini bisa melihat rudalku dengan jelas, dan dia kusuruh untuk menggenggamnya. Kukorek-korek kemaluannya, kukeluar-masukkan jariku, tampaknya dia sangat menikmatinya. Kulihat batang kemaluanku hanya digenggamnya saja, maka kusuruh dia untuk mengocoknya pelan-pelan, namun karena dia tidak melumasi dulu batangku, maka kemaluanku jadi agak sakit, tapi enak juga sih.

“Eehhhsssttt… eehhhsssttt… Ouw.., eehhhsssttt… eehhhsssttt… eehhhssstt…” begitu erangannya saat kukeluar-masukkan jariku.
Kumasukkan jariku lebih dalam lagi ke liang kewanitaannya dan dia mendesis lebih keras, aku suruh dia agar jangan keras-keras, takut nanti adikku terbangun.
“Kocokkannya lebih pelan dong..!” kataku yang merasa kocokkannya terhenti.
Kupercepat gerakan jariku di dalam liangnya, kurasakan dia mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya ke depan dan ke belakang, seakan dia lagi menggauli jariku.
Dan akhirnya, “Oh.., oohhh.. oohhh.. ohhh…” rupanya dia mencapai klimaksnya yang pertama, sambil kakinya mengapit dengan keras kaki kananku.

Kucabut jariku dari kemaluannya, kulihat masih ada noda merah di jariku. Karena aku belum puas, aku langsung pergi ke kamar mandi dan kutuntun Anita. Di kamar mandi aku minta dia untuk mengocok batang kejantananku dengan tangannya. Dia mau. Aku lepaskan celanaku, setelah itu CD-ku dan batang kejantananku langsung berdiri tegap. Kusuruh dia mengambil sabun dan melumuri tangannya dengan sabun itu, lalu kusuruh untuk segera mengocoknya. Karena belum terbiasa, sering tangannya keluar dari batangku, terus kusuruh agar tangannya waktu mengocok itu jangan sampai lepas dari batangku. Setelah 5 menit, akhirnya aku klimaks juga, dan kusuruh menghentikan kocokannya.

Seperti pagi hari sebelumnya, kami mengulangi perbuatan itu lagi. Tidak ada yang dapat kuceritakan kejadian pagi itu karena hampir sama dengan yang terjadi di pagi hari sebelumnya. Tapi pada malam harinya, seperti biasa, aku sendirian nonton TV. Anita datang, sambil tiduran dia nonton TV. Tapi aku yakin tujuannya bukan untuk nonton, dia sepertia ketagihan dengan perlakuanku padanya. Dia langsung menuntun tanganku ke selangkangannya. Aku bisa menyentuh kewanitaannya, tapi ada yang lain. Kini dia tidak memakai pembalut lagi.
“Eh, kamu udah selesai mens-nya..?” tanyaku.
“Iya, tadi sore khan aku udah kramas, masa nggak tau..?” katanya.

Aku memang tidak tahu. Karena memang aku kurang peduli dengan hal-hal seperti itu. Aku jadi membayangkan yang jorok, wah batang kejantananku bisa masuk nich. Kuraba-raba CD-nya. Tepat di lubang kemaluannya, aku agak menusukkan jariku, dan dia tampak mendesis perlahan. Tangannya kini sudah membuka restleting celana pendekku, selanjutnya membukanya, dan CD-ku juga dilepaskankan ke bawah sebatas lutut. Digenggamnya batang kejantananku tanpa sungkan lagi (karena sudah sering kali ya..?). Aku juga membuka CD-nya, tapi karena dia masih memakai rok mini lagi, jadi tidak ketahuan kalau dia sekarang bugil di bagian bawahnya. Dia kini dalam keadaan mengangkang dengan kaki agak ditekuk. Kuraba bibir kemaluannya dan dengan agak keras, kumasukkan seluruh jari telunjukku ke lubang senggamanya.

“Uhhh.. essshhh.. eessshhh.. essshhh…” begitu desisnya waktu kukeluar-masukkan jariku ke lubang senggamanya.
Sementara dia kini juga berusaha mengocok batang keperkasaanku, tapi terasa masih sakit. Kukorek-korek lubang kemaluannya. Lalu timbul keinginanku untuk melihat kemaluannya dari dekat. Maklumlah, aku khan belum melihat langsung bentuk kemaluan wanita dari dekat. Paling-paling dari film xxx yang pernah kutonton. Kuubah posisiku, kakiku kini kuletakkan di samping kepala Anita, sedangkan kepalaku berada di depan kemaluannya, sehingga aku dengan leluasa dapat melihat liang kewanitaannya. Dengan kedua tanganku, aku berusaha membuka bibir kemaluannya.

Tapi, “Auw.. diapaain Mas..? Eshhh.. uuhhh..” desisannya tambah mengeras.
“Sorry.., sakit ya..? Aku mo lihat bentuk anumu nih, wah bagus juga yach..!” sambil terus kukocokkan jariku.
Kulihat daging di lubangnya itu berwarna merah muda dan terlihat bergerak-gerak.
“Wah, jariku aja susah kalo masuk kesini, apalagi anuku yang kamu genggam itu ya..?” pancingku.
Dia diam saja tidak merespon, mungkin lagi menikmati kocokan jariku karena kulihat dia memaju-mundurkan pantatnya.
“Eh, sebenarnya yang enak ini mananya sich..?” tanyaku.
Tangan kirinya menunjuk sepotong daging kecil di atas lubang kemaluannya.

“Ini nich.., kalo Mas kocokkan jarinya pas menyentuh ini rasanya kok gatel-gatel tapi enak gitu.”
“Mana.., mana.., oh ini ya..?” kugosok daging itu (yang kemudian kuketahui bernama klitoris) dan dia makin kuat menggenggam batang kemaluanku.
“Ahhh. auu.. enakkkk Maaasss… eeehhh… aaahhh.. truusss Masss, terusiinn.. ohhh..!”
Tangannya setengah tenaga ingin menahan tanganku, tapi setengahnya lagi ingin membiarkan aku terus menggosok benda itu.
Dan akhirnya, “Uhh.. uhhh.. uuhhh.. ahhh.. aahhh..” dia mencapai klimaks.

Aku terus menggosoknya, dan tubuhnya terus menggelinjang seperti cacing kepanasan.
Lalu kubertanya, “Eh, gimana kalo anuku coba masuk ke sini…? Boleh nggak..? Pasti lebih enakan..!”
Dia hanya mengangguk pelan dan aku segera merubah posisiku menjadi tidur miring sejajar dengan dia. Kugerakkan batang kejantananku menuju ke lubang kemaluannya. Kucoba memasukkan, tapi rasanya tidak bisa masuk. Kurubah posisiku sehingga dia kini berada di bawahku. Kucoba masukkan lagi batangku ke lubangnya. Terasa kepala anuku saja yang masuk, dia sudah mendesis-desis.

Kudorong lebih dalam lagi, tangannya berusaha menghentikan gerakanku dengan memegang batangku. Namun rasanya nafsu lebih mendominasi daripada nalarku, sehingga aku tidak mempedulikan erangannya lagi.
Kutekan lagi dan, “Auuuwww.. ehhssaaakkkiittt..!”
Aku berhasil memasukkan batang anuku walau tidak seluruhnya. Aku diam sejenak dan bernapas. Terasa anunya memeras batangku dengan keras.
“Gimana, sakit ya.., mo diterusin nggak..?” tanyaku padanya sambil tanganku memegang pantatnya.
Dia tidak menjawab, hanya terdengar desah nafasnya. Kugerakkan lagi untuk masuk lebih dalam. Mulutnya membuka lebar seperti orang menjerit, tapi tanpa suara.

Karena dia tetap diam, maka kulanjutkan dengan mengeluarkan batangku. Dan lagi-lagi dia seperti menjerit tapi tanpa suara. Saat kukeluarkan, kulihat ada noda darah di batangku. Aku jadi kaget, “Wah aku memperawaninya nih.”
“Gimana.., sakit nggak.., kalo nggak lanjut ya..?” tanyaku.
“Uhhh.. tadi sakiiittt sich… uhhh. geeelii..” begitu katanya waktu anuku kugesek-gesekkan.

Setelah itu kumajukan lagi batang kejantananku, Anita tampak menutup matanya sambil berusaha menikmatinya. Baru kali ini batangku masuk ke liangnya wanita, wah rasanya sungguh nikmat. Aku belum mengerti, kenapa kok di film-film yang kulihat, batang kejantanan si pria begitu mudahnya keluar masuk ke liang senggama wanita, tapi aku disini kok sulit sekali untuk menggerakkan batang kejantananku di liang keperawanannya. Namun setelah beberapa menit hal itu berlangsung, sepertinya anuku sudah lancar keluar masuk di anunya, maka agak kupercepat gerakan maju-mundurku di liangnya. Kurubah posisiku hingga kini dia berada di bawahku. Sambil masih kugerakkan batangku, tanganku berusaha mencapai buah dadanya. Kuremas-remas buah dadanya yang masih kecil itu bergantian, lalu kukecup puting buah dadanya dengan mulutku.

Dia semakin bergelinjang sambil mendesis agak keras. Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 10 menitan, kaki Anita berada di pantatku dan menekan dengan keras pantatku. Kurasa dia sudah orgasme, karena cengkeraman bibir kemaluannya terhadap anuku bertambah kuat juga. Dan karena aku tidak tahan dengan cengkeraman bibir kemaluannya, akhirnya, “Crot.. crot.. crot..” air maniku tumpah di vaginanya. Serasa aku puas dan juga letih. Kami berdua bersimbah keringat. Lalu segera kutuntun dia menuju kamar mandi dan kusuruh dia untuk membersihkan liang kewanitaannya, sedangkan aku mencuci senjataku. Setelah itu kami kembali ke tempat semula.

Kulihat tidak ada noda darah di karpet tempat kami melakukan kejadian itu. Dan untung adik-adikku tidak bangun, sebab menurutku desisan dan suara dia agak keras. Lalu kumatikan TV-nya, dan kami berdua tidur di kamar masing-masing.
Sebelum tidur aku sempat berfikir, “Wah, aku telah memperawani sepupuku sendiri nich..!”

Sewaktu aku sudah kuliah lagi (dua hari setelah kejadian itu), dia masih suka menelponku dan bercerita bahwa kejadian malam itu sangat diingatnya dan dia ingin mengulanginya lagi. Aku jadi berpikir, wah gawat kalo gini. Aku jadi ingat bahwa waktu itu aku keluarkan maniku di dalam liang keperawanannya.
“Wah, bisa hamil nich anak..!” pikirku.
Hari-hariku jadi tidak tenang, karena kalau ketahuan dia hamil dan yang menghamili itu aku, bisa mampus aku. Setelah sebulan lewat, kutelpon dia di rumahnya. Setelah kutanya, ternyata dia dapat mens-nya lagi dua hari yang lalu. Lega aku dan sekarang hari-hariku jadi balik ke semula.

Begitulah ceritaku saat menggauli sepupu sendiri, tapi dasar memang sepupuku yang agak ‘horny’. Tapi sampai saat ini kami tidak pernah melakukan perbuatan itu lagi.

nenek nely

“Nenek Neli..” begitu biasanya cucu-cucunya memanggil.
Nenek Neli pemilik rumah yang kutempati (kost) adalah nenek yang yang mengerti benar arti kecantikan wanita, itu menurut pandanganku. Usianya kira-kira 60-an, gerak-geriknya lembut dan gurat-gurat kecantikannya masih terlihat jelas. Kalau kubanding-bandingkan, wajah Nenek Neli persis seperti bintang sinetron RE. Dengan kulit putih bersih dan terawat. Bagaimana tidak kelihatan bersih ni nenek, setiap minggu mandi susu, luluran dan perawatan kecantikan lainnya. Jadi pantaslah kecantikan masih memancar dan usia tuanya tidak begitu kelihatan.
Di rumahnya, Nenek Neli tinggal sendiri ditemani dua orang pembantu serta 3 kamar di lantai atas dikoskan. Anak-anak Nenek Neli ada 2 orang, Ibu Riri dan Ibu Rosa, sudah menikah tapi tinggal di lain kota. Aku, Ari dan Reni adalah anak-anak kostnya. Kami sebagai anak kost memang kompak bertiga dan sudah lama kost di rumah Nenek Neli. Sehingga kami bertiga ini sudah seperti keluarga atau ya sebut saja cucunya Nenek Neli. Selama kami tinggal, terutama aku, memang tidak ada pengalaman (sex) yang seru. Tapi sore itu, aku mendapat suatu pengalaman sex baru. Berhubungan sex dengan nenek-nenek, Nenek Neli! Nah.., begini ceritanya.
Aku (Jojo, 20 tahun) sampai di tempat kost jam 4 sore. Sepi, karena 2 orang tetangga kostku pulang ke rumahnya, mereka menghabiskan libur kuliahnya di rumah masing-masing. Aku memang ada rencana pulang, mungkin 2-3 hari lagi. Kulihat Nenek Neli sedang merawat bonsai-bonsainya.
“Sore.. Nek.” kataku sambil menghampirinya.
“O.., Nak Jo, udah pulang rupanya.”
Asyik sekali kelihatan Nenek Neli dengan bonsai-bonsainya. Hobynya yang satu ini memang cocok dengan pribadi Nenek Neli. Resik dan anggun, bagaikan bonsai peliharaannya. Karena capek dan Nenek Neli kelihatan asyik dengan bonsainya, aku pamit mau istirahat di kamar.
Pelan-pelan kunaiki anak tangga, menuju kamarku. Wah.., terasa sekali sepinya, biasanya sore-sore begini kami berkumpul sambil becanda-canda, terutama sama si Big Beautiful, Reni. Walaupun Reni ini bodynya bomber (beratnya 80 kg kurang lebih sih), wajahnya lumayan cantik juga. Gendut tapi wajahnya tidak terlalu bulat, pokoknya cantik deh. Gila! kok bisa ngelamunin Reni. Entah karena ngelamunin Reni atau memang nafsuku lagi kumat, kulepaskan celana, yang tinggal hanya CD-ku saja. Gundukan celana dalamku makin membesar, penisku tegang! Sakit juga rasanya, akhirnya kulepaskan CD-ku, telanjang bulat! Kumainkan penisku, kukocokin penisku sambil membayangkan menyenggamai si gendut Reni.
Tiba-tiba.., “Ceklek.. kreeit..,” pintu kamarku terbuka (aku lupa mengunci pintunya).
“Weleh-weleh.., Nak Jo, Nak Jo. Barang gede gitu kok dianggurin, sini masukin lubang Nenek aja..!”
Kaget sekali aku, tidak tahu rasanya, antara malu dan birahiku masih telentang bugil di tempat tidur. Tapi Nenek Neli dengan cueknya malah melangkah masuk ke kamar, menghampiriku. Rupanya dari tadi dia sudah menonton acara ngocokku. Dan aku benar-benar tidak menyangka akan ucapannya.
“Ngentot Nenek Neli..?”
“Siapa takut..!?”
Nah, ini yang kumaksud pengalaman baru dan membuat pribadi sex-ku berubah. Di kemudian hari, aku hanya senang berkencan (bersenggama) dengan wanita yang usianya di atas usiaku. Kalau tidak tante-tante, ya.. nenek-nenek. Dan yang pasti melalui Nenek Neli lah aku dikenalkan dengan teman-temannya. Pokoknya lebih asyik begituan dengan nenek-nenek, liang vaginanya keset dan agak sempit lah..!
Penis besarku dielus-elus sama Nenek Neli, lembut sekali. Kuraba susu Nenek Neli (Nenek Neli masih memakai daster tipis), lumayan besar (bulat lonjong) tapi agak turun. Wajah kami sudah demikian dekatnya, penisku masih dipegangnya sambil dikocok. Gurat-gurat wajah Nenek Neli kelihatan menampakkan wajah tuanya. Tapi who care..! Yang kulihat sekarang, Nenek Neli benar-benar bagaikan pacarku (gadis 20 tahunan), sintal dan menggairahkan! Dan yang pasti akan kugituin dia habis-habisan..!
Posisi kami masih berdiri, tapi sekujur tubuh kami sudah tidak terbalut sehelai pakaian pun, los polos.. telanjang bulat! Tubuh Nenek Neli yang putih mengelinjang kegelian ketika susu besarnya kuhisap-hisap, kugigit dan kutarik-tarik puting susunya.
“Uh.. hh.. aduh.. biyung.. geli aku..!” teriaknya tertahan oleh birahi.
Susu Nenek Neli mengelonjor, makin turun bergoyang-goyang. Lidahku makin liar menjalar-jalar menjelajahi lekuk tubuh Nenek Neli yang putih mulus.
Puas bermain di puting susunya, lidahku menjelajah turun ke bawah gunung kembar Nenek Neli. Perutnya sedikit turun, bergelombang bagaikan sisa ombak di pesisir pantai. Sungguh semakin membuat birahiku bergejolak. Bulu-bulu kemaluannya masih terlihat lebat dan kelihatan bibir vaginanya sedikit menyembul, bagaikan jengger ayam.
“Wow.., bener-bener terawat luar dalam ini Nenek.” batinku.
Walaupun lemak sedikit menggumpal di perutnya, tapi kulit nenek masih gres, mulus sampai liang vaginanya pun bersih terawat, terlihat berwarna merah segar kemudaan.
“Shrup.. shrup.. cop.. cop..” bunyi lidahku menari-nari menghisap lubang kemaluan Nenek Neli.
“Uh.. uh.. oohh trus trus.. Nak, aduh.. nikmatnya.. iihh..!” badan Nenek Neli meliuk-liuk menahan kegelian.
Vagina Nenek Neli basah oleh ludahku. Mungkin yang namanya monupouse (berakhirnya kelenjar pelicin) ya.. ini, vagina Nenek Neli sama sekali tidak mengeluarkan cairan.
“Bu.. ibu..” tiba-tiba si Sum, pembantu Nenek Neli memanggil-manggil.
“Brengsek..!” umpatku kesal.
Gimana tidak kesel, lagi mau masukin vagina Nenek Neli, eh.. si Sum manggil tuannya. Bergegas Nenek Neli merapihkan pakaian dan rambutnya yang acak-acakan.
Sambil tersenyum, dia berbisik, “Kamu pinter.. Nak. Nanti malam kita terusin ya.. Sayang..?”
Nenek Neli bergegas turun dan tidak lupa mengecup pipiku mesra. Samar-samar kudengar alasan Nenek Neli kepada Sum, dia di kamar atas dari tadi mengecek kamar anak-anak kost. Busyet, si nenek pintar bohong juga.
Jam di kamarku menunjukkan pukul 09.00 malam. Lampu-lampu di ruang tamu dan kamar pembantu mulai dipadamkan. Sepertinya kedua pembantu Nenek Neli sudah mulai tidur. Kecapean kali dari pagi kerja beberes rumah. Sepi sesekali terdengar bunyi jangkrik bersahutan. Aku sudah tidak sabar menunggu Nenek Neli. Acara TV di kamarku tidak lagi menarik perhatianku. Sayup-sayup kudengar langkah kaki menaiki tangga.
“Sstt.. Nak Jojo.. ini Nenek..” bergegas kubuka pintu kamarku, kupeluk erat nenek seksiku ini.
“Nek..kog lama sih.., Jojo udah nggak tahan nih!” kataku sambil kutunjukkan penisku yang sudah terangsang berat.
Aku memang sengaja telanjang bulat menunggu kedatangan Nenek Neli.
“Ih.. gedenya!” dipegangnya penisku.
“Ya.. Nenek juga udah pengin ngerasain punya kamu, Jo. Rasanya gimana ya.. kalo punya kamu yang gede itu masuk ke Nenek..? Aduh.. ngebayangin aja rasanya udah cekot-cekot..” katanya sambil pakaiannya dilepas.
Yang menempel hanya kutang dan celana dalam berwarna hitam. Seksi sekali!
Sekarang badan kami menempel erat, bergumul di tempat tidurku. Ujung penisku yang terangsang berat diusap, diremas, pokoknya geli habis deh..! Badanku menggelinjang menahan geli. Bibir kami saling bercumbu, menggigit dengan nafsu yang membara. Sambil puting buah Dada Nenek Neli kupilin-pilin.
“Aduh.. Nak.. uuh.. sini gantian, Nenek mau hisap punya kamu..!” dengan cepat Nenek Neli bergerak turun mencari penisku yang masih tegak.
Ujung-ujung penisku dijilatinya.
“Uh.. ah.. ah.. sstt.. Nek.. ah.. enak sekali Nek..” suaraku tertahan menahan geli yang sangat.
Mendengar eranganku, Nenek Neli semakin bernafsu memainkan lidahnya. Dari ujung penis, lidahnya menjilat-jilat batang kemaluanku, terus.. terus.. sampai dua pelorku pun tidak luput dari jilatannya. Kedua pelorku dihisap dan dikulumnya.
“Sstt.. uuh.. geli.. Nek..,” tidak kuat aku menahan geli.
Busyet! Nenek Neli benar-benar jago. Baru kali ini aku merasakan sensasi sex yang begitu hebat. Tua-tua keladi nenek ini, makin tua makin HOT.
“Srupp.. srupp.. sstt.. sstt..” suaranya kedengaran seperti kepedasan.
Mulut Nenek Neli terbuka lebar memasukkan penisku, karaoke! Geli sekali batang penisku bergesekan dengan giginya. Uh.. tambah geli aku, begitu ujung penisku digigit-gigitnya.
“Nek.. Jojo.. nggak tahan.. Jojo mau masukin ya..?”
Pelan-pelan penisku dilepas, Nenek Neli telentang di sisi tempat tidur dengan kaki terbuka lebar (mengangkang). Lubang vaginanya terbuka lebar, siap melumat batang penisku. Ujung penisku mulai menyentuh bibir kemaluannya.
Dari atas, vaginanya yang terbuka terlihat menyembul sedikit lubang kencing Nenek Neli. Kugesek-gesekkan dulu penisku ke biji kacangnya.
“Uh.. uh.. geli.. oohh.. nak Jo.. Nenek udah nggak tahan..!”
Kemudian erangannya berganti menjadi, “Ah.. aah.. aduh.. Nak..” ketika penisku menerobos masuk ke dalam vagina Nenek Neli.
Pertama masuk vaginanya sedikit tertahan (kering), karena cairan kemaluannya tidak seperti gadis belasan tahun, baru ciuman saja sudah deras muncrat. Vagina Nenek Neli kering-kering nikmat, bagaikan bersenggama dengan perawan ting-ting.
“Blep.. plak.. plak.. blep..” bersahutan-sahutan bunyi batang kemaluanku beradu, sambil masih kupegang kedua kakinya naik ke atas membentuk huruf V.
Mata Nenek Neli meram melek menahan gejolak kenikmatan. Kupandangi wajahnya, sedikit mehanan nyeri, tersenyum. Buah dadanya bergoyang naik turun, kiri.. kanan.., seiring penisku menghujam masuk keluar lubang vaginanya. Terasa ngilu penisku di dalam, rupanya Nenek Neli sengaja mempermainkan liangnya.
“Uuh.. oohh.. jepitannya enak sekali Nek..!” eranganku pertanda Nenek Neli akan mengakhiri permainan ini.
“Aahh.. Jo.. Nenek.. oohh.. aduhh.. keluar.. oohh..”
Gesekan penisku semakin keras maju mundur, liang senggama Nenek Neli berdenyut-denyut menjepit batang kemaluaku sambil tangannya mencengkram sprei tempat tidur. Terasa cairan hangat membasahi penisku. Aku sudah tidak tahan, seolah-olah ada dorongan yang begitu hebat di dalam diriku. Semakin keras kupompa vagina Nenek Neli, semakin keras dorongan yang kurasakan. Ah.., rasanya spermaku akan tumpah keluar.
“Sekarang.. Nek.. oohh.. Joo.. mo keluar.. aahh..!” spermaku muncrat membasahi dalam lubang vagina Nenek Neli.
Basah dan hangat sekali. Berkedut-kedut vagina Nenek Neli. Batang kemaluanku masih setia terbenam di dalam lubang kenikmatannya. Nenek Neli tersenyum senang sambil memencet hidungku.
Lama kami saling terkapar di tempat tidur. Nenek Neli merasa tidak kuat turun dari kamarku. Sambil tidur-tiduran, kami saling terbuka menceritakan pribadi masing-masing. Hangat sekali malam ini dikeloni oleh Nenek Neli. Dia mengharapkan supaya aku mau terus kost di rumahnya (gratis tentunya). Dan suatu saat, dia akan mengenalkanku dengan teman-teman yang sehoby dengan Nenek Neli. Aku hanya mengangguk di dekapan Nenek Neli.

ngentot bareng

Cerita ini adalah kisah nyata, berlangsung ketika saya kuliah di suatu kota ternama di Jawa tengah sekitar tahun 1992. Sebagai mahasiswa pendatang, saya hidup sederhana, karena memang kiriman dari orangtua yang bekerja sebagai tentara terkadang kurang untuk memenuhi kebutuhan saya. Menurut teman-teman, saya termasuk pria simpatik, dengan kemampuan berpikir cemerlang, biasanya saya dipanggil Rudy.
Kurang dari 6 bulan saya belajar di kota ini, cukup banyak tawaran dari beberapa teman untuk memberikan les privat matematika dan IPA bagi adik-adik mereka yang masih duduk di sekolah lanjutan. Keberuntungan datang bertubi-tubi, bahkan tawaran datang dari bunga kampus kami, sebut saja Indah untuk memberikan les privat bagi adiknya yang masih duduk di kelas 2 SLTP swasta ternama di kota dimana saya kuliah.
Keluarga Indah adalah keluarga yang sangat harmonis, ayahnya bekerja sebagai kepala kantor perwakilan (Kakanwil) salah satu departemen, berumur kurang lebih 46 tahun, sementara itu ibunya, biasa saya panggil Tante Stella, adalah ibu rumah tangga yang sangat memperhatikan keluarganya. Konon kabarnya Tante Stella adalah mantan ratu kecantikan di kota kelahirannya, dan hal ini amat saya percayai karena kecantikan dan bentuk tubuhnya yang masih sangat menarik diusianya yang ke 36 ini. Adik Indah murid saya bernama Noni, amat manja pada orangtuanya, karena Tante Stella selalu membiasakan memenuhi segala permintaannya.
Dalam satu minggu, saya harus memberikan perlajaran tambahan 3 kali buat Nona, walaupun sudah saya tawarkan bahwa waktu pertemuan tersebut dapat dikurangi, karena sebenarnya Nona cukup cerdas, hanya sedikit malas belajar. Tetapi Tante Stella malah menyarankan untuk memberikan pelajaran lebih dari yang sudah disepakati dari awalnya.
Setiap saya selesai mengajar, Tante Stella selalu menunggu saya untuk membicarakan perkembangan anaknya, tekadang ekor matanya saya tangkap menyelidik bentuk badan saya yang agak bidang menurutnya. Melewati satu bulan saya mengajar Noni, hubungan saya dengan Tante Stella semakin akrab.
Suatu ketika, kira-kira bulan ketiga saya mengajar Noni, saya datang seperti biasanya jam 16:00 sore. Saya mendapati rumah Bapak Gatot sepi tidak seperti biasanya, hanya tukang kebun yang ada. Karena sudah menjadi kewajiban, saya berinisiatif menunggu Noni, minimal selama waktu saya mengajar. Kurang lebih 45 menit menunggu, Tante Stella datang dengan wajah cerah sambil mengatakan bahwa Noni sedang menghadiri pesta ulang tahun salah seorang temannya, sehingga hari itu saya tidak perlu mengajar. Tetapi Tante Stella tetap minta saya menunggu, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan saya.
Ketika Tante Stella memanggil untuk masuk ke dalam rumahnya, alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Stella telah memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Stella masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam “BL” seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira-kira 36B.
Mula-mula saya tidak menaruh curiga sama sekali, pembicaraan hanya berkisar masalah perkembangan pendidikan Noni. Tetapi lama kelamaan sejalan dengan cairnya situasi, Tante Stella mulai bercerita tentang kesepiannya di atas ranjang. Terus terang saya mulai bingung mengimbangi pembicaraan ini, saya hanya terdiam, sambil berhayal entah kamana.
“Rud, kamu lugu sekali yah..?” tanya Tante Stella.
“Agh.. Tante bisa aja deh, emang biar nggak lugu harus gimana..?” jawab saya.
“Yah.. lebih dewasa Dong..!” tegasnya.
Lalu, tiba-tiba tangan Tante Stella sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.
“Rud.. mau kan tolongin Tante..?” tanya si Tante dengan manja.
“Loh.. tolongin apalagi nih Tante..?” jawab saya.
“Tolong puaskan Tante, Tante kesepian nih..!” jawab si Tante.
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Stella yang memiliki rambut sebahu. Saya benar-benar tidak membayangkan kalau ibu bunga kampus saya, bahkan ibu murid saya sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk “bercinta” dengan Tante Stella ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.
“Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong..?” tanya saya sambil bercanda.
“Yah.. kamu pikir sendirilah, kan kamu sudah dewasa kan..?” jawabnya.
Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulai memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas-remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Stella juga tidak mau kalah, dia langsung meremas-remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini.
Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu, Tante Stella menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya, dia langsung melucuti semua baju saya, pertama-tama dia melepas kemeja saya sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya, sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi’s saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya.
“Wah.. Rud, gede juga nih punya kamu..” kata si Tante sambil bercanda.
“Masa sih Tante..? Perasaan biasa-biasa saja deh..!” jawab saya.
Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Stella yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.
Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba-tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas-remas, sementara itu Tante Stella terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit-gigit putingnya yang sudah mengeras.
“Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Rud..!” desahnya.
“Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah..?” kata saya.
Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitoris-nya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu-bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat-jilat kemaluan si Tante dengan pelan-pelan.
“Ogh.. Rud, pintar sekali yah kamu merangsang Tante..” dengan suara yang mendesah.
Tidak terasa, tahu-tahu rambutku dijambaknya dan tiba-tiba tubuh Tante mengejang dan saya merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, karena berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apa pun tentunya sudah tidak menjadi masalah.
Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar-benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Stella sekarang meminta saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
“Rud.. ayoo Dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih..!” pinta si Tante.
“Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana..?” tanya saya.
“Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang-tenang aja deh..!” sambil berusaha meyakinkan saya.
Benar-benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukkan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya.. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan.
“Ahh.. dorong terus Dong Rud..!” pinta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali.
Mendengar desahannya, saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas-remas payudaranya, sampai tiba-tiba tubuh Tante Stella mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya.
Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar-benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.
“Oh.. oh.. nikmat sekali Rudy..!” teriak si Tante.
“Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih..!” kata saya.
“Sabar yah Rud.. tunggu sebentar lagi, Tante juga udah mau keluar lagi nih..!” jawab si Tante.
Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante.
“Arghh..!” teriak Tante Stella.
Tante Stella kemudian mencakar pundak saya, sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot-otot kemaluannya benar-benar meremas batang kemaluan saya.
Setelah itu kami berdua letih, tanpa disadari kami telah sejam bersenggama, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke ruang keluarga. Ketika melihat Tante Stella dalam keadaan telanjang menuju ke dapur, mungkin dia sudah biasa seperti itu, entah kenapa, tiba-tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata-kata, saya langsung memeluk Tante Stella dari belakang, dan mulai lagi meremas-remas payudaranya dan pantatnya yang montok serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.
“Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya..?” kataya sambil tertawa kecil.
“Agh.. Tante bisa aja deh..!” jawab saya sambil menciumi bibirnya kembali.
Karena sudah terlalu nafsu, saya mengajaknya untuk sekali lagi bersenggama, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Stella, kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di ruang keluarga. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya dogie style.
“Um.. dorong lebih keras lagi dong Rud..!” desahnya.
Semakin nafsu saja saya mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokan saya kepada si Tante, sementara itu tangan saya menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.
“Rud.. mandi yuk..!” pintanya.
“Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah..?” jawab saya.
Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya duduk di atas closed, dan kemudian saya menarik Tante Stella untuk menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
“Hm.. nikmat sekali jilatanmu Rud.. agghh..!” desahnya.
“Rud.. kamu sering-sering ke sini Rud..!” katanya dengan nafas memburu.
Setelah puas menjilatinya, saya angkat Tante Stella agar duduk di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini rasa nikmatnya lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat saya akhirnya “KO” kembali. Saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Stella kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.
Setelah selesai mandi, saya pamit pulang karena baru tersadar bahwa perbuatan saya amat berbahaya bila diketahui oleh Bapak Gatot, Indah teman sekampus saya, apalagi Noni murid saya itu. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan persetubuhan, tetapi tidak pernah lagi di rumah, Tante memesan kamar hotel berbintang dan kami bertemu di sana.
Selepas pengalaman itu, saya menjadi lebih berani pada wanita, dan menikmati persetubuhan dengan beberapa wanita setengah baya yang kesepian dan butuh pertolongan tanpa dibayar.